*Media Sosial; Berfikir Koyol yang Kritis

Posted in ILMU, Selentingan on 10 Januari 2016 by ni ariyani

social-media-images

*Media Sosial; Berfikir Koyol yang Kritis

Berbicara mengenai ‘Media Sosial’, hampir seluruh lapisan masyarakat memiliki berbagai macam akun media sosial online, seperti Facebook, Tweeter, Instagram, Path, dan lainnya. Sampai sekarang masih juga tak abis pikir tentang masyarakat yang mempunyai akun Facebook dan menuliskan status tentang situasi atau kondisi yang saat itu sedang dialami. ”Saatnya makan malam”, sambil upload foto makanan yang akan dimakan. ”Lagi galau nih”, dengan ditambahi emotikon ‘mewek‘. ”Dalam perjalanan menuju Solo/Surabaya/Jakarta”, dibarengi dengan upload-an gambar jalan yg sedang macet/rusak/yang lainnya. Ketika melihat atau membaca status yang sejenisnya itu, neuron-neuron dalam otak bergerak sangat aktif sekali. Pertanyaan besar berputar-putar di kepala, gerangan apa yang menjadikan jari-jemari menulis status yang menurut saya ‘aneh’. Apa yang menjadi sebab munculnya penulisan status tersebut. Ya, mungkin sebabnya karena memang hal tersebut akan dan atau sudah terjadi/ dialami. Tetapi, kemudian pertanyaan yang belum bisa saya terka jawabannya adalah orientasi penulisan status semacam itu sebenarnya apa? Baca lebih lanjut

Iklan

Kata Mati

Posted in Cuma Serpihan, Repihan Kata with tags , , on 25 September 2015 by ni ariyani

Kata Mati

Oleh : ni ariyani
————
Bibir kelu
Jemari kaku
Abjad tak lagi bersahabat
Serangkaian kalimat yang sekarat
Puisi hampir mati
Seperti hati terpasung peri
Senja yang memuisi mati
Jingganya tak ada arti
Kini…

Purwodadi, 23 September 2015

Si Kambing dan Si Sapi jadi Selebritis

Posted in Cuma Serpihan, ILMU, Selentingan with tags , , , , , on 25 September 2015 by ni ariyani

Si  Kambing dan Si Sapi jadi Selebritis

Oleh : ni ariyani – Hari Raya Idul Adha 1436 H

Sepertinya sekarang ini adalah jamannya menganut paham ‘narsisme’. Awal mula istilah ini dicetuskan oleh psikolog handal bernama Sigmund Freud. Dari jaman dahulu hingga sekarang, ternyata istilah ‘narsis’ sudah menjadi trend. Apalagi ditahun 2015 ini masyarakat mulai menganut paham narsisme yang berlebihan (narsisme ekstrim). Fenomena ini ditandai dengan aktivitas masyarakat yang dinamai ‘selfie’ dan ‘groupy’. Selfie berasal dari kata self potrait, yaitu mengambil gambar atau foto diri dengan menggunakan tangannya sendiri. Sedang groupy merupakan pengambilan gambar secara beramai-ramai (berkelompok). Terdapat berbagai alasan yang disampaikan tentang mengapa mereka melakukan selfie atau groupy. Berlebih menjamurnya media sosial seperti facebook, tweeter, instagram dan lainnya. Media sosial tersebut dijadikan wadah untuk mempertahankan eksistensi mereka.

700

Baca lebih lanjut

Kelu…

Posted in Cuma Serpihan on 27 Juni 2015 by ni ariyani

Kelu …

Lagi-lagi kelu memburu

Bisu tak bersenandung

Sakit tak terperi

jenuh menggerogoti rindu

Diam menenggelamkan angan

Kini hati itu menjadi remahan yang siap lenyap oleh riak kebosanan

Rinduku pada keluguan yang merdu

Rinduku bukan untuk lugu yang sendu

ni ariyani, 27 Juni 2015

Memaknai Tahun Baru

Posted in Selentingan with tags on 31 Desember 2014 by ni ariyani

Memaknai Tahun Baru

hukum-merayakan-tahun-baru-masehi

Tahun Baru? Ini bukan masalah meniru-niru gaya barat. Tahun baru bukan berarti tiru-tiru orang-orang modern yang berada di barat sana. Bukan masalah beda agama, beda ras, beda suku, beda bahasa atau yang lainnya. Masing-masing punya tahun baru, bahkan punyai makna untuk tahun baru yang masing-masing dalam persepsi mereka. Kaum muslim punya tahun baru, orang-orang Tionghoa punya tahun baru, dan yang paling terkenal adalah tahun baru nya “Masehi”. Semua manusia mengalami. Semua manusia tahu tentang ini.

Kini, permasalahannya adalah bagaimana umat manusia memaknai dan mengimplementasikan tahun baru sebagaimana mestinya. Tahun baru tak perlu segala produk yang baru. Bagi yang merayakan tahun baru, tak perlu dengan riuh kembang api, tak perlu dengan keramaian yang hedonis. Tahun baru perlu adanya tatanan jiwa yang baru. Memperbaharui kecerdasan intelektual, emosional, dan berlebih kecerdasan spiritual.

Baca lebih lanjut