Memaknai Tahun Baru


Memaknai Tahun Baru

hukum-merayakan-tahun-baru-masehi

Tahun Baru? Ini bukan masalah meniru-niru gaya barat. Tahun baru bukan berarti tiru-tiru orang-orang modern yang berada di barat sana. Bukan masalah beda agama, beda ras, beda suku, beda bahasa atau yang lainnya. Masing-masing punya tahun baru, bahkan punyai makna untuk tahun baru yang masing-masing dalam persepsi mereka. Kaum muslim punya tahun baru, orang-orang Tionghoa punya tahun baru, dan yang paling terkenal adalah tahun baru nya “Masehi”. Semua manusia mengalami. Semua manusia tahu tentang ini.

Kini, permasalahannya adalah bagaimana umat manusia memaknai dan mengimplementasikan tahun baru sebagaimana mestinya. Tahun baru tak perlu segala produk yang baru. Bagi yang merayakan tahun baru, tak perlu dengan riuh kembang api, tak perlu dengan keramaian yang hedonis. Tahun baru perlu adanya tatanan jiwa yang baru. Memperbaharui kecerdasan intelektual, emosional, dan berlebih kecerdasan spiritual.

Berkumpul dengan keluarga pada malam tahun baru, itu sah-sah saja, asal jangan melakukan pengeluaran yang berlebihan (sewajarnya saja). Jika berkumpul dengan keluarga dengan melakukan makan malam atau nonton film dirumah, itu terlihat lebih anggun dibanding harus dengan keluar rumah merayakan tahun baru dengan bermewah-mewar suasana. Berkumpul dengan keluarga, baik keluarga inti (core family) ataupun dengan keluarga besar (extended family) merayakan tahun baru, itu merupakan suatu tindakan yang wajar. Tahun baru merupakan moment yang terjadi setahun sekali, di mana pada hari perubahan tahun tersebut, seluruh dunia meliburkan hari tersebut. Ini bisa dikatakan, tahun baru adalah kesempatan emas bagi mereka yang sibuk dalam pekerjaan. Dan memanfaatkan tahun baru untuk berkumpul dengan keluarga atau teman-teman mereka merupakan hal yang baik, -sekali lagi- jangan melakukan tindakan konsumerisme. Merayakan tahun baru, dalam pandangan positif dapat mempererat tali silaturahmi antar sesama. Sedangkan pandangan negatif dapat berdampak kemudharatan, melakukan hal yang sia-sia. Hal demikian karena pikiran manusia sekarang sudah tersigma, bahwa perayaan tahun baru harus dengan kembang api dan riuh hedonis. Tetapi jika dimaknai positif, perayaan tahun baru, entah itu Tahun Baru Masehi, Tahun Baru Islam, Tahun Baru Imlek dan lainnya dapat dimanfaatkan untuk lebih mendekatkan hubungan emosional dengan rekan, teman, berlebih dengan keluarga.

*Oleh : Nur Indah Ariyani (31 Desember 2014)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: