*Media Sosial; Berfikir Koyol yang Kritis


social-media-images

*Media Sosial; Berfikir Koyol yang Kritis

Berbicara mengenai ‘Media Sosial’, hampir seluruh lapisan masyarakat memiliki berbagai macam akun media sosial online, seperti Facebook, Tweeter, Instagram, Path, dan lainnya. Sampai sekarang masih juga tak abis pikir tentang masyarakat yang mempunyai akun Facebook dan menuliskan status tentang situasi atau kondisi yang saat itu sedang dialami. ”Saatnya makan malam”, sambil upload foto makanan yang akan dimakan. ”Lagi galau nih”, dengan ditambahi emotikon ‘mewek‘. ”Dalam perjalanan menuju Solo/Surabaya/Jakarta”, dibarengi dengan upload-an gambar jalan yg sedang macet/rusak/yang lainnya. Ketika melihat atau membaca status yang sejenisnya itu, neuron-neuron dalam otak bergerak sangat aktif sekali. Pertanyaan besar berputar-putar di kepala, gerangan apa yang menjadikan jari-jemari menulis status yang menurut saya ‘aneh’. Apa yang menjadi sebab munculnya penulisan status tersebut. Ya, mungkin sebabnya karena memang hal tersebut akan dan atau sudah terjadi/ dialami. Tetapi, kemudian pertanyaan yang belum bisa saya terka jawabannya adalah orientasi penulisan status semacam itu sebenarnya apa?

Jikapun akan makan malam kemudian mengambil gambar makanan kemudian di-upload ke media sosial (red.medsos), toh yang akan makan adalah yang mengambil gambar (pemilik akun), makanannya sebentar lagi dimakan, masuk mulut ke perut, lalu makanan tersebut habis. Lalu??? Apakah makanan tersebut di-upload untuk dijadikan kenang-kenangan sebelum makanannya terlahap habis, masuk ke mulut-perut yang ujungnya akan menjadi kotoran?. Kemudiaan jika mengalami perasaan yang tidak karuan, seperti perasaan sedih kecewa, galau, dan sebagainya, lalu merangkai kata yang lugas ”lagi galau” dengan emotikon cemberut, apa itu nantinya bisa mengurangi atau bahkan menghilangkan kekecewaan, kesedihan atau kegalauannya? Emotikon tersebut mewakili ekspresi raut mukanya. Kenapa tak berfikir ulang dahulu, menyamakan emotikon dengan wajah kita yang justru lebih enak dipandang daripada gambar bulat-bulat tersebut. Oke lah, bila gambar tersebut hanya dijadikan simbol atau penanda ekspresi, sebagai ungkapan perasaan yang sedang dirasakan. Pertanyaannya berputar lagi, kembali pada satu pertanyaan besar, apakah dengan menuliskan status yang demikian mampu menetralisir perasaan yang sedang kacau? Padahal alangkah baiknya jika sedang dirundung duka kita bermunajat kepada ALLAH SWT, pastilah akan diberi kemudahan jalan untuk menyelesaikan perasaan yang tidak baik yang sedang dialaminya tersebut.

Lalu yang tidak habis pikir lagi adalah ketika sedang dalam perjalanan, pengguna media sosial meng-upload foto kondisi jalan yang ada di depan atau di belakang -kebanyakan depan- pengendara (si pemilik akun/pengguna media sosial). Maksud penggunggahan foto tersebut itu sebenarnya apa??? Mobil berjejer-jejer lurus di depan kemudian diambil gambarnya, ”jepret”, dengan masih memperlihatkan dashboard mobil, kemudian diunggah ke media sosial sambil menuliskan status ”macet nih”. Lho, hasil foto itu kan memang tidak bergerak, mobil yang ada difoto tersebut otomatis juga tidak bergerak. Ya, itu memang yang namanya macet. Sampai kapanpun ya akan macet, karena mobil-mobil yang berjejer di depan tidak bergerak maju atau mundur. Terkadang hal yang demikian yang membuat saya geli. Saya berfikir ulang, ini karena saya tidak tahu situasi kondisi di dalam mobil pengendara dan situasi kondisi di luar mobil alias kondisi di jalan nya. Saya berfikir, mungkin saja saya ditipu, situasi jalan yang nyata-nyata terdapat banyak kendaraan lalu-lalang kemudian di ambil gambarnya. Di jalan kendaraan-kendaraan itu terus dan terus berjalan, melaju dengan lancar. Tetapi karena kendaraan tersebut diambil gambarnya, otomatis kendaraan-kendaraan yang lalu-lalang ramai lancar terlihat berhenti, stagnan. Nah, dari sinilah saya berfikir ”jangan-jangan saya ditipu dengan gambar semacam ini”. Karena jujur, sampai sekarang saya belum paham benar tujuan dari peng-upload-an foto-foto kemacetan jalan yang terlihat dashboard mobilnya itu apa. Sepertinya jika foto-foto tersebut diunggah ke media sosial, polisi pun tidak akan datang menghampiri dan memberi tahu jalan pintas mana yang bisa dilewati. Foto-foto tersebut juga tidak akan menggeser kendaraan-kendaraan tersebut ke samping kanan-kiri, sehingga jalan menjadi lengang dan mobil yang pengendaranya meng-upload kemacetan jalan memiliki kesempatan seperti berjalan di red carpet, lancar dan aman terkendali.

Yang saya mengerti sedikit, fenomena semacam ini dilihat dari segi sosiologis adalah suatu fenomena yang pop. Ini adalah pop-cultur, budaya pop semacam ini adalah hasil dari keterkekangan masyarakat yang mengalami suatu masa yang tidak nyaman baginya. Budaya pop merupakan hasil dari penolakan atau perlawanan dari golongan aristokrat yang berbudaya aritokratis (adiluhung). Budaya pop media sosial dengan content yang ‘aneh’ menjadi fenomena luar biasa di era sekarang ini. Budaya menulis yang di-update dan aktivitas fotografi yang di-upload ke media sosial menjadi budaya baru masyarakat. Media sosial online dijadikan wadah berekspresi dan berinteraksi dengan orang lainnya. Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan media online lainnya merupakan media yang mudah dijangkau masyarakat. Dahulu tulisan-tulisan yang berbobot saja yang akan diterbitkan ke dalam media cetak, hanya kegiatan ‘orang-orang penting’ saja yang akan dipublikasikan di media elektronik. Sekarang masyarakat dengan mudah berekspresi dengan tulisan, gambar bahkan video di media sosial dengan cara online. Bahkan terkadang berekspresi diluar batas norma dan adat ketimuran.

Fenomena ini lah yang menciptakan budaya pop baru dikalangan masyarakat sekarang. Masyarakat memiliki kemudahan akses yang luar biasa untuk mengaktualisasikan diri dan menjaga eksistensi diri. Media sosial online merupakan salah satu jalan untuk menunjukkan ke-AKU-an masyarakat.

Menjadi masyarakat yang kritis dan peka, hendaknya mampu memanfaatkan media sosial online untuk memaksimalkan potensi diri. Masyarakat harus jeli melihat peluang dari adanya media sosial online tersebut. Masyarakat harus mampu menggunakan media sosial online untuk lebih produktif, karena sejatinya budaya pop bukan budaya ‘ecek-ecek’! (Desember 2015)

 

*Nur Indah Ariyani

Alumnus UNS 2014

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: