Tak Berdaya dalam Pagi


 
 
18 April 2013 pukul 11:02
 

Aku tak pernah menyalahkan mendung, bahkan awan hitam menggumpal seperti noda. Pun setalah rintik air langit menghujam bumi. Aku tersenyum pada gerimis. Melantunkan kidung cinta pada sang hujan.

Tiap jejak rindu yang kupersembahkan pada malam, selalu mendekap lekat pada bayang.

Wahai engkau matahari, yang dengan hangat pijarmu membebaskanku pada nafas sarat makna. Wahai engkau rembulan, yang dalam siluet banyangmu datangkan kenyamanan. Kini aku berpasrah pada pagi, yang menggiringku pada kelemahan aroma ranum.

Aku tak ingin rebah, tapi aku telah rebah. Aku tak mau tumbang, tapi ini seperti tumbang.

Duh pagi, bawa semangatku yang kemarin lalu. Yang dalam kesendirian seakan merdeka. Yang dalam kesunyian semakin dekat kesejatian. Aku rindu itu, Tuhan. Beri satu kekuatan dalam satu langkah awal tapakku. Kunyalakan bara api dalam pagi. Dan kan kuteriakan MERDEKA.

Ahh.. Kasur ini menjadikanku lupa pada makna pagi yang sebenarnya.

Aku pergi saja!

-ni ariyani-

Purwodadi, 18 April 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: