Berceritalah!


Berceritalah!

[Pada Calon Pasanganmu]

28 Mei 2012 – 23.15 WIB

Dan sesungguhnya seseorang memang tidak punyai hak telak atas orang lain untuk menyuruh menceritakan atau membeberkan kisah-kisahnya [pribadi]. Karena sejatinya manusia berhak untuk menyimpan rapi kisah yang dianggapnya berharga atau bahkan menghinakan. Sesungguhnya hanya Yang Maha Mengetahui lah yang tahu bagaimana duduk permasalahan balada kehidupan umat-NYA. Dan jika seseorang [manusia] ingin menjadikan itu sebagai ‘rahasia’, maka silahkan saja. Itu adalah hak!

 

Tapi segala pelaksanaan laku memang ada hasil dampaknya. Entah itu dalam hal kebaikan atau malah sebaliknya, dalam hal keburukan. Jika sesuatu [harapan atau cita-cita] yang baik itu dirahasiakan, maka kebaikan itu akan berhenti di satu jalur itu saja. Akan sulit untuk melangkah maju pada jalur berikutnya. Bayangkan saja jika kita mempunyai harapan untuk membangun sekolah, tetapi kita hanya berdiam diri merahasiakan niat baik itu, tanpa berbicara pada pihak-pihak yang ada hubungannya dengan perwujudan cita-cita kita. Semua itu akan sulit terwujud jika hanya dirahasiakan. Harus ada perwujudan nyata untuk menjadikan harapan dan cita-cita itu benar-benar menjadi nyata. Jangan rahasiakan harapan dan cita-cita yang baik!

 

Sedangkan jika sesuatu [perihal aib] yang buruk dirahasiakan, maka keburukan itu juga akan berhenti pada satu titik jalur hidup. Tapi percayalah bahwa ALLAH Yang Maha Berkuasa lagi Mengetahui. Seberapa kuat aib itu disembunyikan, seberapa rapat hal buruk itu disimpan, sesungguhnya hal buruk itu akan nampak juga. Ini adalah untuk dijadikan pelajaran bagi mereka yang mau mengambil hikmah dari hal yang demikian.

 

Kembali pada kisah pribadi, apakah kisah-kisah [masa lalu] tersebut harus diceritakan pada orang lain atau tidak. Hal yang demikian ini perlu ditinjau dulu seperti apa konteksnya. Jika sebagian kisah itu memberikan dampak baik atau manfaat untuk orang lain, maka tidak ada salahnya untuk diceritakan, selagi kisah itu adalah bukan aib! Karena jika kita berbicara tentang aib kita sendiri, sesungguhnya kita telah menganggap rendah diri kita sendiri. Umapakan saja itu adalah tentang kisah ‘si fulan’.

 

Dan kisah-kisah pribadi yang sudah tersimpan rapi, yang sudah tidak ingin dikuak kembali, jika itu sudah dijadikan rahasia hati, janganlah kita menceritakan kepada orang lain jika kita belum berlega hati. Ceritakanlah apa yang ingin kita ceritakan. Di mana nantinya setelah kita bercerita, hal tersebut mampu melegakan hati, mengurangi beban hati.

 

Tapi ingatlah, jika kita sudah memiliki [insyALLAH calon] pendamping hidup, ada baiknya kita menceritakan kisah-kisah masa lalu yang pernah kita alami dulu. Bukan bermaksud mengumbar aib atau membanggakan diri kita sendiri atas masa lalu kita, tetapi hal ini dimaksudkan untuk menjaga hubungan baik antara kita dengan [calon] pasangan kita. Agar tidak saling berprasangka!

 

Jika kita sudah yakin dan mantap bahwa dia adalah [calon] pasangan kita. Jika kita sudah bermunajat dan berisikharoh bahwa memang dia yang akan menjadi pendamping hidup kita. Jika insyALLAH sudah ada ikatan antara kita dengan [calon] pasangan kita, dimana orang tua dari kedua belah pihak sudah dipertemukan dan kita sudah menjalani peminangan ataupun pengkhitbahan, maka ada baiknya kita bercerita tentang siapa diri kita pada [calon] pasangan kita. Tanpa harus ada yang dikurangi dan dilebihkan dalam bercerita dan menuturkan kisah masa lalu dan harapan masa depan, berceritalah dengan lembut dan bijaksana! Segalanya ceritakanlah, karena sesungguhnya hal demikian adalah untuk dijadikan pelajaran dan ukuran serta pengendalian di masa depan. Ceritakanlah dengan rendah hati terhadap [calon] pasangan kita. Jika dia menerima [cerita kelam] kita dengan lapang dada, maka kita sebenarnya tidak salah pilih dalam memutuskan bahwa dia lah yang akan kita jadikan pasangan hidup.

 

Dari cerita-cerita [masa lalu] baik itu adalah cerita buruk maupun cerita terpuji, itu akan menjadi penuntun dalam mengarungi bahtera rumah tangga [kelak], jika kita mau mengambil pelajaran dan hikmah dari cerita-cerita tersebut.

 

Ceritakan saja kisah kita pada [calon] pasangan kita. Itu akan lebih melegakan hatinya, daripada dia tahu kisah-kisah kita dari orang lain, bukan kita! Sesungguhnya hal itu akan lebih menyakitkan baginya!

 

Berceritalah!

 


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: