Bungamu, Bungaku; Bersyukurlah!


Bungamu Bungaku; Bersyukurlah

4 Juni 2012 pukul 9:38

Saudariku yang cantik, sungguh bukan aku yang merusak bunga indahmu. Aku hanya melihat keanggunannya dari jauh. Iya, dari jauh, saudariku! Apakah pandanganku dari kejauhan itu berakibat kelayuan pada bungamu, Saudariku? Maafkan aku!

###

Saudariku, sejatinya aku memang hanya mampu memandang bungamu dari kejauhan. Tak mampu menjamahnya. Dan aku memang tak mau memetiknya, tak ingin mengambilnya. Bungamu terlalu cantik untuk kumiliki, Saudariku. Aku punya bunga sendiri yang sungguh indah dimataku. Sangat indah!

Bunga yang di sana itu, yang ditanam di taman berkeliling pagar indahnya itu memang begitu cantik, sama sepertimu, Saudariku! Tapi sadarlah wahai Saudariku yang cantik, itu bukan bungamu. Itu bunga indah milik yang empunya! Kau tak berhak atasnya, Saudariku. Begitu pula dengan aku, tak punyai mandat apapun untuk memetiknya.

Terjagalah wahai Saudariku, bungamu ada di tamanmu sendiri. Bahkan aku melihat bungamu lebih menawan dari pada bunga itu, bunga-bunga lain Saudariku, memang terkadang kita melihat bahwa milik orang lain lebih indah dan mempesona dari pada apa yang kita punya. Tapi sungguh itu adalah kekeliruan yang besar. Akupun begitu, Saudariku. Terkadang aku merasa begitu cemburu dan iri ketika melihat bunga-bunga lain bermekaran dengan indahnya, padahal aku juga punyai bunga sendiri [yang sebenarnya] lebih indah dari bunga lainnya. Sejenak aku terdiam, ternyata aku termasuk hamba-hamba yang kurang beruntung, aku termasuk hamba yang merugi. Aku kurang bersyukur dengan apa yang ku punya:(

Saudariku yang cantik, aku tak mau kau menjadi orang-orang yang merugi karena kurang bersyukur atas bunga yang kau miliki. Jangan sepertiku, Saudariku! Bahkan terkadang aku juga iri melihatmu, kenapa bungaku tak seperti bungamu, yang indah, yang anggun, yang banyak sekali orang-orang memujinya. Istigfar, lalu aku beristigfar. Karena sesungguhnya bungaku juga indah. Bunga itu yang aku miliki. Milikku yang indah. Indah bagi hatiku. Indah untuk jiwaku. Selamanya bungaku akan indah [untukku].

Begitu pula dengan bunga-bungamu, Saudariku. Bungamu adalah cantik bagimu, menghias taman hatimu, memperindah ruang jiwamu.

Mari kita siram dan pupuk bunga-bunga kita dengan penuh keikhlasan, Saudariku. Agar bunga-bunga yang indah itu semakin indah, semakin anggun, dan semakin mempesona. Pupuklah bunga-bunga kita dengan penuh ketulusan, Saudariku. Agar bunga-bunga itu tumbuh dengan sehatnya, tumbuh berkembang bersama kedewasaan kita.

Jangan iri dan cemburu melihat bunga-bunga indah lain di taman itu, Saudariku! Kau punyai bunga yang lebih cantik dari bunga mereka! Bungamu!

Bersyukurlah dengan apa yang kau miliki, Saudariku! Bungamu!

🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: