Suara Kodok*


Suara kodok, teot teblung… teot teblung…

Sebelum mengenal pria abu-abu, suara aneh dari makhluk aneh itu begitu nyaman mampir di ruang telinganya. Bahkan menjadi sebuah nama kesukaannya ‘Kodok Jantan yang Jelex’ suaranya bukan seperti suara kodok biasanya. Ini lain, suara kodok jantan jelex agak lembut dibandingkan yang lainnya! Bahkan pernah didapatinya, kodok jantan itu bisa mengerti bahasa manusia, sesekali juga bisa berbahasa manusia. Iya, kodok jantan itu mampu berdialog dengan manusia. Ia pun menyukainya, Kodok Jantan yang pintar, pikirnya!

Hanya kodok saja mampu mengerti apa yang ia katakan, dapat pahami yang ia rasa. Tapi… kenapa pria abu-abu itu tak pernah sanggup menanggapi percakapannya? Ataukah sengaja tak mau mengerti? Oh, ternyata tak cuma percakannya yang tak diacuhkan. Pertanyaan dan tanggapan orang lainpun, bahkan sesama pria sendiri ia tak memperdulikan. Iya kah karena ia seorang pria abu-abu?

Ia sangat tahu betul, pria abu-abu itu juga punyai kodok. Entah kodok jenis apa, apakah kodok itu mirip yang dipunyainya atau semacam apa. Ia tak pernah pamerkan kodok jantan jelex nya pada siapapun, apalagi pada pria abu-abu. Cukup dengan sewajarnya berdialog dengan kodok yang bisa berbahasa manusia itu, ia begitu lega merasa. Heran, pria abu-abu itu dengan bangganya menggembar-gemborkan kecantikan kodoknya pada seantero jagat raya. Padahal, orang-orang di sana juga tak tahu jenis kodok apa milik pria abu-abu itu. Dan tak juga disadari (oleh pria abu-abu) gembar-gembor itu menikam kuat kesakithatiannya.

Ia tak akan bersaing pada pria abu-abu, apalagi bersaing untuk memamerkan kodoknya. Tak akan pernah! Karena tak ada gunanya! Dunia sudah tahu, ini hanya akibat dari kesakithatian! Bukan karena kodoknya, tapi karena ikhwal disebalik laku memamerkan kodoknya!

Ini musim hujan, bahkan sekarang ini tak bisa ditebak kapan musim kemarau, kapan musim penghujan. Efek global warming mungkin! Kodok-kodok sawahpun mulai mengekspresikan dirinya. Mengadakan kontes, membentuk paduan suara. Iya, paduan suara kodok!

Kodok jantan jelex miliknya tidak diikutsertakan dalam kontes paduan suara, ia takut kodoknya menjadi juara. Ia tidak ingin pamer! Sekali lagi, karena ia tak ingin semua orang tahu tentang kodok jantan jelexnya yang juga bisa berbahasa manusia, bisa berdialog dengan manusia! Ia takut, jika kodoknya diikutsertakan dalam kontes, nanti dalam penilaian akhir akan dimenangkan oleh juri. Lalu, semua orang tahu, semua orang inginkan kodoknya. Ia tak mau semua itu terjadi, ia tak ingin!
Benar tebakannya, kodok pria abu-abu itu diikutsertakan dalam lomba.

Suara kodok bersahutan, suara kodok pria abu-abu hanya teot teblung… teot teblung…

*Hanya intermezo, Kawan

2010

 

9 Tanggapan to “Suara Kodok*”

  1. Hehehehehe dasar kodok

    • Mantap… tenan… putonya cupang… kemarin pas di kediri aku juga ada cupang lho, hampir mirip itu, tapi bukan halfmoon, serit.. tapi keren …!!! ha ha ha untuk Kodok ga suka sama cupang, untuk kodok makanannya nyamuk..🙂

  2. wehh… saya tidak tega… bentuk swike saja belum pernah liat,,,
    Saya mau pelihara kodok jantan saja😀 hahai

  3. Hhahahaa, jadi inget dulu waktu kecil sering denger suara teot teot teblunggg..🙂

  4. bayanginnya malem2 di rumah pinggir sawah..😀

  5. DOYAN????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: