Kes[ombo]ngan


Dan pada kenyataannya adalah memang benar-benar ada tentang manusia sombong yang menyombongkan. Dalam kejayaannya berilmu memang bisa saja banyak orang memberikan acungan pengapresiasian. Tapi pada akhir pembicaraan yang dengan seksama akan diperoleh kata yang sama, ‘percuma’. Bagaimana tidak, karena ini adalah tak ubahnya bagai buih ombak dalam jeladri. Banyak buih dalam satu terpaan ombak, tidak hanya satu bukan?

Lepaskan saja dari pengandaian apapun tentang hal ini, tentang manusia sombong yang menyombongkan. Semua akan kembali pada ketiadaan. Jikapun ini waktu adalah ‘ada’ baginya, maka kelak adalah ‘tiada’ untuknya. Senyum-senyum tuluspun tak akan pernah mampir lagi di teras kepercayaan dirinya. Satu tentang keengganan semacam ini adalah karena peletakkan posisi diri yang terlalu tinggi. Anggapnya adalah singgasananyalah yang paling tinggi dan paling indah, padahal itu adalah nihil.


Jika masih dalam ketinggian dan kebesarannya tanpa memberikan sentuhan pada yang seharusnya disentuh, maka nihil itu akan berlaku lagi. Lalu, pembiaran mungkin akan menjadikan lebih baik baginya. Agar tidak lagi pada diri yang menyombongkan kesombongan.


27 Februari 2011 jam 20:34

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: