Rindu untuk Deienda


Untuk Deienda…

 

Apa kabarmu di sana, yang entah di mana? Tanya kabar semacam ini memang sepertinya biasa untuk orang-orang yang entah siapa, formalitas katanya. Tapi asal kau tahu Deienda, aku benar-benar  mengharapkan kabar darimu. Kabar baik tentunya! Dan sama sekali tidak berharap, ketika aku mendapat berita tentangmu adalah berita sedihmu. “Apa Kabar”, ini adalah dua kata yang sungguh kuniatkan untukmu, Deienda. Karena aku memang berharap besar akan bagaimana keadaanmu sekarang. Masihkah kau dengan senyummu dulu, tak habis-habisnya bercerita tentang bagaimana mengambil gambar yang bagus, atau asal jepret objek. Masihkah kau dengan hobimu membuat mainan-mainan  kecil dari kayu cemara itu. Aku merindukan celotehanmu dulu, Deienda. Percayalah, aku merindumu.

Aku tak tahu pasti tentang rinduku ini kepadamu. Tentang bagaimana keadaanmu sekarang, karena cerita-ceritamu dalam lembar kertas tak kudapati lagi. Apakah kau sedang kedinginan dengan berbalut lima atau enam helai kain selimut di samping kasurmu. Ataukah kau sedang berasik ria dengan ikan-ikanmu di kolam.

Deienda, sudah lama kita tak seperti dulu, bercerita sambil sesekali marah atau sesekali menangis. Entah kita tertawa karena apa, atau menangis karena yang bagaimana. Mungkin karena ceritamu atau ceritaku yang membuat haru atau karena memang keadaan hatimu dan hatiku yang sedang pilu. Deienda, ingatkah cerita-cerita tentang kodok, yang apakah makanan berbahan dasar kodok itu haram atau halal jika dimakan oleh orang muslim. Atau pembicaraan kita tentang seorang perempuan yang begitu terobsesi padaku dulu. Ahh, Deienda tak ada bisa aku ajak bertukar tawa atau luka sekarang, sepertimu dulu. Dan sekarang benar-benar terasa sunyinya hati tanpa hadirmu dalam bentuk lembar-lembat kertas itu.

Taukah kau Deienda, kertas-kertas wangi itu masih tersimpan rapih dalam ruang laciku. Surat-surat bersampul warna biru muda, hijau kekuning-kuninggan dan warna lainnya, semua masih menumpuk tinggi. Dan ketika kulihat-lihat lagi, tak ada satupun warna kertas atau sampul surat dengan rona merah jambu. Padahal itu adalah warna kesukaan bagi para gadis-gadis yang sedang jatuh cinta, atau setidaknya itu memang warna untuk wanita.  Tapi kau tidak pernah mengirim tulisan-tulisanmu diatas lembaran kertas berwarna merah jambu. Tergelitik hatiku ketika kau kutanya tentang ikhwal ini, “Aku tidak suka pink” jawabmu tegas tapi rasa sangat malu-malu. Apakah aku tidak salah mendengar, kau gadis yang begitu cantik, anggun, tapi sama sekali tidak menyukai warna merah jambu, bahkan terkesan antipati. Kau memang gadis yang unik Deienda. Apa mungkin karena keunikan-keunikanmu yang semacam ini yang membuatku terbuai rindi padamu Deienda?

Deienda, masihkah kau simpan senyum manismu untukku saat terakhir kali kita bertemu dan kau ucap “hati-hati di jalan”. Ataukah kau sudah tak menyisakan senyum-senyum itu lagi?

Dulu entah karena apa tak ada lagi cerita kita dalam lembar-lembar kertas. Aku mencoba mengingatnya, tapi entah karena apa aku tak ingat. Antara kau dan aku sama-sama tak berbalas. Ada apa Deienda? Lalu apakah sekarang sudah ada alamat lain yang kau tulis diatas sampul surat-suratmu? Ahh, sebenarnya aku sangat berharap tulisan diatas sampul itu adalah masih kau tujukan alamatku, bukan yang lain.

Deienda, aku hanya ingin kabarmu adalah baik-baik saja. Jikapun sekarang senyummu mengembang karena laki-laki berkacamata di barat daya kota, di sana, aku mencoba mengikhlaskan. Asal dirimu bermahkotakan damai dengannya. Yaa biarlah aku dengan kenangan-kenangan celotehanmu yang dulu lewat lembar-lembar kertas yang kau tulis dengan pena birumu.

Deienda, apa kabarmu? Aku merindumu!

 

 

Dariku, Kamawira

2 Tanggapan to “Rindu untuk Deienda”

  1. tulisan yang ehm…….
    Nyata apa fiktif tuh????

  2. hayo2 apa hayo…
    menurut Anda???🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: