Seribu empat ratus enam puluh hari


 

Seribu empat ratus enam puluh hari sudah kalimat-kalimat itu mengiringi perjalanan hidupmu dengan sunggingan senyum di bibir manismu.

Kalimat-kalimat yang kau genggam begitu erat hingga lekat merasuk dalam sanubarimu, kalimat yang begitu menyejukkan jiwa, katamu.

 

Benar saja, jalan menikung itu mengirim pikiranmu mengembara pada lorong sempit dengan rerumputan panjang disampingnya.

Menyusuri alam melalui tulisan tak terejawantahkan, menapaki jalan selangkah demi selangkah di bawah jatuhan rinai hujan.

Segala macam skenario didramakan dalam satu ruang yang sering kau jadikan tempat tepekur memandang pepohonan.

Dan dua pil obat penyembuh sakit kepala dengan segelas air putih adalah saksi bisu kepedulianmu yang teramat dalam.

 

AAA

 

Lalu jarum dan selang infuse yang menusuk dalam di tangan kirinya, membuat mata tak berani menatap wajah sayunya.

Selang-selang yang entah warna apa, berujung disebidang dadanya yang kurus terlihat rusuknya.

Satu selang yang entah apa namanya menyatu pada ibu jarinya. Dimainkannya, dipasang lepas seolah mengejek monitor di atasnya.

 

Sesal tak berujung, suara yang katanya merdu saat masa kecil menyelimuti yang empunya, tak terdengar lagi.

Indah tulisan sajak yang dikirimnya tiap pagi bersama burung-burung yang menari, juga tak lagi.

 

Sesal tak berujung, senyumnya tak akan pernah mengembang lagi, mengajak bercengkrama melalui mimpi.

Riuh candanya yang digembar-gemborkan dalam ruang penuh sesak itu, tak akan pernah lagi.

 

Dalam keabdiannya…

Dipersembahkan seribu empat ratus enam puluh hari kalimat-kalimatnya menari di atas lazuardi.

Mengiringinya dalam doa pada sesembahan alam jagat raya.

Wahai Dzat yang menyatukan nyawa dalam raga, berikanlah indah surga dalam penantiannya.

 

AAA

Kau rekahkan kembali manis senyummu sembari bercerita tentang suara merdu saat masa kecil menyelimuti yang empunya.

Berkisah tentang segala jalan yang kau lalui bersama angan dan harapan serta bayangan tak memihak.

Sepotong kisah cantik dari Tuhannya untuk penyanjung rasa dalam ketiadaan nyata.

Sebaris mimpi yang lena dari masa lalu yang merasuk ke dalam atma.

 

@ 211106-211110 @


2 Tanggapan to “Seribu empat ratus enam puluh hari”

  1. sebenarnya otak saya tidak mampu memahami dan menyelami makna tulisan ini… tapi Amin🙂 kelihatanya bagus….hehehe
    berikanlah indah surga dalam penantiannya.,,,pada beliau,,,:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: