Sang Kekasih


Cerpen: ARLEN ARA GUCI

Tiada berbatas ruang dan waktu, Aku mencari-cari dimana tempat sebenarnya kami bisa bertemu berdua. Ya, hanya berdua saja. Bila sekali saja Aku bisa bertemu, akan ku tumpahkan segala muak menyemak, segala asa di jiwa, segala sesak di dada, segala kabut di hati, segala apa yang ku rasa, ku derita, menjelang genderang pertemuan yang tiada bisa aku janjikan. Bisa kapan saja. Tetapi, entah kapan, dan dimana tempatnya?

Tak setiap orang memuji-Nya. Aku meyakini itu. Karena untuk menyanjungkan pujian butuh pendekatan. Dan Aku melihat dengan mata kepala, bagaimana mereka menjauh. Bahkan kadang seolah tak kenal dengan-Nya. Jangankan untuk memuji, menyebut nama-Nya saja, mereka tak pernah. Aku malu untuk mengungkapkan hal ini pada-Nya. Karena Aku meyakini, minta disebut dan minta pujian bukanlah sifat-Nya.

Pernah suatu masa, antara Aku dengan-Nya saling menjauh. Entah apa sebab musababnya, Aku tak tahu. Lalu, hubungan yang jauh itu berbuah benci. Aku merasakan kebencian yang teramat sangat pada-Nya. Padahal saat itu Aku sedang menang dalam suatu pertarungan jiwa. Tak kuasa mencari tempat yang tepat. Aku tersasar di sebuah bangunan tua. Bangunannya, mirip sekali dengan rumah-Nya.

Bangunan itu indah menawan. Setiap sisinya berukir kaligrafi berwarna hijau tua bercampur tinta emas. Atapnya berkubah menjulang ke langit tinggi. Lantainya marmer bersepuh pualam. Terasa sekali kebesaran-Nya.

Sesampai di situ, ternyata telah ada seseorang. Orang asing. Aku melihat ia akrab. Bahkan lebih dari itu. Orang asing itu terkesan berdua-duaan di keheningan malam di sebuah rumah-Nya, yang terletak di tengah kota tua itu.

“Apa gerangan yang membuat-Nya lebih memilih orang itu daripada Aku?”

Bertanya-tanyalah Aku dalam hati.

Saat itu, Aku telah berada tepat di beranda muka rumah-Nya.

“Apa karena ia lebih tampan, lebih gagah, lebih kaya, lebih pintar, lebih segala-galanya dari ukuran rata-rata yang dimiliki manusia pada umumnya?”

Aku benci pada orang asing itu. Aku benci pada-Nya. Aku benci suasana itu.

“Apa salah rasa benci ini Aku tujukan pada-Nya?”

Kelam kian pekat. Sama sekali tak ada tanda-tanda keintiman itu akan berakhir. Aku belum berani untuk melanjutkan langkah kaki mendekati. Sebelum salah satu dari mereka benar-benar ingin berpisah.

Namun, Aku salah menafsirkan. Semakin larut, keduanya makin khusuk. Kini kecemburuan ku sontak menghentak. Kenapa orang itu yang dipilih-Nya? Makin lama, hatiku makin terbakar api kecemburuan. Melihat kesyahduan yang di pertontonkan orang asing itu.

Tentu saja ia anak muda yang kegagahannya melebihi kegagahanku. Ingin Aku melihat langsung roman anak muda itu, lalu apa yang saling mereka cakapkan.

Karena tak tahan berlama-lama dalam angan yang tiada berkesudahan. Aku lemparkan beberapa butiran batu kecil. Setelah susah payah ku memungutnya dalam gulita tersebut.

Mulailah Aku layangkan butiran-butiran batu kecil ke orang asing itu. Harapan ku, ia akan terkejut, kemudian memalingkan muka. Sebagaimana layaknya orang terkejut oleh sesuatu yang datang tiba-tiba tanpa sepengetahuannya. Secara reflek, pastilah orang asing itu akan menoleh ke arah ku. Darimana sumber lemparan ini berasal.

Sejak dari lemparan pertama sampai lemparan kedua, ketiga, selanjutnya keempat, kelima, keenam terakhir lemparan ketujuh, ia tak bergeming sedikit pun.

Melihat gelagat yang tak biasa ini. Aku dicekam rasa ciut takut tiba-tiba. Bukanlah tabiat manusia, kalau tak lagi sekadar diganggu masih diam saja.

“Hei… siapa kau?” pekik ku diantara tiang-tiang penyangga yang ada.

“Heiii….. siapa kau? Kenapa kau diam saja? Kau punya telinga tapi bukannya untuk mendengar?” pekik ku ulang.

“Hei…kamu manusia apa bukan!?”

Karena pekikan ku tak satu pun yang dihiraukannya. Maka pertahanan ku untuk tidak menampakkan diri sejak tadi jadi sia-sia.

Aku siapkan bergunung-gunung geram melangkah mendekatinya. Setapak, dua tapak, kini tapakan terakhir. Aku tegak sudah di mukanya.

Aku lihat ia terpekur khusuk. Hingga ia tak melihat geram yang membentuk kepalan tangan, siap Aku layangkan padanya.

Kemudian Aku amati dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya. Ternyata, ia seorang anak manusia yang tak bisa melihat rupanya. Ia buta. Apalah artinya segunung geram yang sedari tadi Aku siapkan untuknya? Ia takkan melihat naik turun dadaku, untuk menghantamnya secara tiba-tiba entah dari sisi mana. Pokoknya serangan ini akan jadi serangan maut buatnya.

“Assalamualaikum…!”

“Selamat datang saudaraku! Maafkan Aku, bila kehadiranmu ku rasakan lebih dari sekadar angin lalu saja. Aku terlalu terlena dibuai oleh-Nya. Di saat berdua-duaan begini, Aku sangat berharap tiada sesuatu pun yang menganggu hubungan antara aku dengan–Nya. Tapi kamu telah melakukannya. Kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu.”

“Apa maksudmu? Menyebut Aku dengan saudara. Sedang kita tak keluar dari rahim yang sama. Sedang kehadiran ku, kamu anggap tak lebih baik sekadar angin lalu saja, Jangan kamu kira Aku tercipta dari angin. Aku manusia, tercipta dari tanah. Dan, bukanlah jiwaku, suka mengganggu hubungan sesuatu. Hubungan buat Aku adalah sesuatu yang sakral. Takkan bisa orang lain menyelaminya. Jadi, Aku pikir tak ada perbuatanku padamu, yang perlu Aku pertanggungjawabkan!”

“Begitukah sikap saudara terhadap sesama saudaranya sendiri dalam membersihkan diri? Tanpa merasa bersalah dan berdosa atas perbuatan-perbuatannya? Sejak pertama kali saudara datang, Aku telah merasa terganggu oleh suara tapak kaki saudara. Selanjutnya, saudara memaksakan diri untuk mengumpulkan beberapa kerikil batu, lalu melemparkan padaku. Kemudian, saudara menahan darah muda saudara, yang mencipta kepalan di kedua telapak tangan, yang siap saudara layangkan kepadaku. Apakah itu bukan salah satu bentuk sikap yang perlu sekali saudara pertanggungjawabkan?”

Puuf! Nafas ku menyesak di dada. Aku cermati orang asing ini lamat-lamat. Memang, tiada yang bisa Aku tangkap selain ia seorang manusia buta. Apakah ia punya mata-mata, hingga tak satu pun gerak-gerikku luput dari penglihatannnya.

Aku surut beberapa depa. Lalu, Aku mulai duduk. Sebagaimana peraturan yang ada di rumah-Nya. Agar darah muda ku tak terus menari-nari di kepala, yang sampai waktunya laksana ombak memecah karang di lautan.

“Dengan cara duduk bukan berarti masalah kita usai, saudaraku. Berani dan takut memias indah di wajahmu. Aku selalu menunggu-nunggu wajah seperti itu. Karena pada saat itu telah terjadi pertarungan antara dua jiwa. Antara jiwa putih, yang di nakhodai oleh akal jernih. Serta jiwa hitam bergumpal. Letaknya di dada sebelah kanan, saudara. Kalau bukan karena benda yang berbentuk gumpalan itu, masih di dekap oleh-Nya, Aku takkan pernah ada kekuatan dari sana untuk menatap apa yang ada di sekitar kita.”

“Penipu. Mata menipu! Kamu buta, malah bukan kegelapan yang kamu rasakan. Tetapi sedenting sesuatu yang asing, kamu tangkap dengan nyata adanya. Bahkan kamu punya kemampuan lebih jauh untuk merasakan setiap getaran yang ada di sekitarnya. Oh, mataku? Kapan kegelapan ini berakhir? Cobalah tengok ke dalam. Apa sebenarnya yang terjadi di diri ini?”

Secara tiada sadar merataplah Aku meratapi diri. Tapi bukannya iba yang tiba. Malah malu teramat sangat datang melanda. Jika dari mataku butiran-butiran bening menitik membasahi permadani hijau ini.

“Bawa…bawalah Aku!” ratap ku padanya.

“Kemana? Aku tak pernah jauh sedetik pun darimu, saudaraku. Di belahan bumi mana pun, di waktu kapan pun, Aku selalu menemanimu. Hanya saja kamu tiada pernah sadari sepenuhnya arti kehadiranku. Tak jarang, kamu hanya tahu kehadiranku saat-saat menitikkan airmata saja, kamu baru lari ke Aku. Sedangkan bila suatu masa kamu mendapatkan kebahagiaan, yang mencipta tawa tiada sudahnya, kamu tiada ingat lagi, siapa diriku ini. Kamu benar-benar lupa. Berhentilah menitikkan airmata. Kamu bisa hanyut dalam arus yang makin lama makin mencabik-cabik suasana syahdu ini!”

Suasana dalam rumah-Nya hening. Aku tiada kuasa untuk melawan kenyataan yang ada. Tanpa sadar Aku mengikuti apa yang di lakukannya, Aku lakukan pula. Aku tak sanggup lagi untuk mempertahankan diri dari benteng pertahanan kemanusiaan yang sesungguhnya. Sekali-sekali Aku senggukan.

“Sudah lama Aku menanti saat-saat mesra begini. Kamu selalu sibuk dengan urusan-urusan yang selalu membuatmu merasa waktu tak cukup dua puluh empat jam saja. Seminggu tak cukup tujuh hari saja. Sebulan tak cukup tiga puluh satu hari saja, sampai waktu setahun pun, tak cukup tiga ratus enam puluh lima hari, buatmu. Kamu selalu lebih suka mengejar bayang-bayang dari pada kenyataan yang sesungguhnya. Kamu begitu suka tertipu oleh panggung berorkestra maut ini. Padahal, semua itu semu, saudaraku! Hal itu pula yang menyebabkan antara kita diskenariokan-Nya untuk saling mengisi, saling berbagi, saling menimbang dalam menjemput hari yang saat itu kita akan terpisah selama-lamanya. Aku akan dibawa tinggi ke arasy-Nya. Sedang kamu tinggal di dalam perut bumi jauh sekali di bawah dalam masa penantian. Kalau antara Aku dan kamu selama ini dalam keseimbangan dalam mengingat-Nya, percayalah, kita malah akan bersatu dalam keabadian di alam sana.”

“Jangan…jangan tinggalkan Aku. Kumohon kepadamu wahai pujaan, wahai dambaan. Tanpamu bagaimanalah hidupku. Tanpamu merasa diri ini tiada ada lagi. Aku berjanji akan selalu mengingatmu walau maut datang menjemput.”

“Kamu terlalu berlebihan mendramatisir hubungan antara kita, saudaraku. Sebenarnya Aku, kamu dan yang mempunyai nafas kehidupan lainnya ada Sang Maha Mengaturnya. Hanya saja, seperti ku katakan semula, kamu dan orang-orangmu sering lebih memilih terlena oleh tipu daya fatamorgana yang bernama dunia.”

“Apa yang seharusnya Aku lakukan, wahai pujaan?”

“Apa kamu merasa sudah tak ada masalah lagi dengan sikapmu semula?”

“Aku tak tahu,” geleng ku berkuah airmata.

“Kamu tahu, saudaraku, tapi kamu menafikannya. Karena kamu suka membelenggu diri, padahal kalau saja kamu memilih catatan-Nya sebagai dasar hidupmu, percayalah, antara kita akan jadi teramat mulia. Kita adalah sesempurna ciptaan-Nya dalam sebaik-baik bentuk!”

“Tunggu! Ma…matamu?”

“Jangan pelihara kedangkalan pikiranmu, saudaraku. Sampai kapan kamu memelihara kedangkalan yang mengakibatkanmu selalu menilai keliru? Sampai kapan kamu melihat sesuatu dengan ukuran utama adalah yang tampak di mata saja. Kamu berlebihan dalam menilai sesuatu. Melihat sepasang mata yang tak bisa melihat saja, jadi kamu permasalahkan terus. Bukankah alat untuk melihat ini telah membuktikannya padamu tadi. Kalau ia mampu menerobos lorong-lorong kabut di celah sekecil apapun di permukaan alam ini?”

Lalu, Aku malu lagi entah untuk kesekian kali.

“Sekarang tentukan pilihanmu, saudaraku!” pintanya.

“Aku tak mau melakukannya untuk kedua kali.”

“Tapi, peranan di panggung ini pilihan, saudaraku!”

“Biarlah! Kamu saja yang memilihkan.”

“Tak bisa. Karena kamu telah diberi mandat lebih dahulu, sebagai khalifah di muka bumi ini. Jadi, kini cepatlah, waktu antara kamu dan Aku akan segera usai, begitu panggilan-Nya kian dekat terasa. Dan janganlah berharap semua yang kita jalani di sini akan abadi. Karena keabadian hanyalah milik-Nya.”

Aku makin karam dalam duka. Ragaku terasa benar-benar serasa putus satu-satu. Kemanakah segenap rasa ini akan Aku adukan? Kenapa pada saat Aku belum bisa menggantikan kedudukan-Nya dalam hati ini, datang orang asing ini. Dan yang lebih membuat Aku tak percaya lagi, orang asing itu lebih dari sekadar mirip segalanya dengan diriku.

Orang asing itu ternyata tak ada bedanya denganku. Aku merasakan orang asing itu sebagai diriku sendiri. Dan buat orang asing itu, Aku adalah dirinya.

Akhirnya, antara Aku dan orang asing itu benar-benar serupa. Kemudian orang asing itu melebur ke dalam diriku.

“Tuhan…siapa orang asing itu? Kenapa ia terpilih untuk berdua-duaan dengan-Mu? Adakah yang telah hilang dalam cinta kita? Adakah kelalaian kerinduan yang selama ini selalu untuk-Mu? Tak adakah tempat buat ku merenda semua masa lalu yang memang tak pernah Engkau beri kelabu? Tapi hitam. Sehitam kelam malam tiada berbintang, tiada rembulan.

Tuhan, apakah Engkau cemburu padaku atau Aku yang tak pernah cemburu pada-Mu? Ada pun kecemburuan yang kini sedang melanda adalah senda gurau belaka? Tapi Tuhan, buat Aku benar-benar kepedihan yang mendalam. Bisakah Engkau bisikkan lagi kabar dari sana buat mereka-mereka yang tak pernah rindu berdua-duaan dengan-Mu? Sedang Aku akan menyalakan api cemburu bila melihatnya. Tak mungkinkah bagi Aku memiliki-Mu utuh!?”

“Selamat tinggal! Kembalilah ke tempatmu semula,” tenang orang asing itu.
“Jangan tinggalkan Aku!” pinta ku diisak.

“Berkacalah. Kemudian, tengoklah apakah memang kau memendam keinginan itu. Karena antara peran wajar dan peran berpura-pura, nyaris tiada ada batasnya. Berhentilah menitikkan airmata. Berhentilah. Kita telah berpadu.”

Dalam penglihatanku, ia kembali merangkul ku dalam cemburu kepedihan. Saat itulah, Aku merasakan nyanyian kesendirian yang selama ini hilang, berubah menjadi untaian nada-nada kasih yang menghentakkan jiwa, yang sedang mengajarkan kepada ku apa arti sebuah kesedihan. Arti sebuah genderang perang!

Aku tak tahu, apakah rasa yang ku rasakan ini hanya sekadar rasa belaka?

Tak sadar, bibirku lirih,

“Oh, sang kekasih!” (AaG)

@@@

23/09/2005 22:57:19

Dimuat di Majalah Al Kisah, 2005


4 Tanggapan to “Sang Kekasih”

  1. yupss
    “man ‘arafa nafsahu faqod ‘arofa Rabbahu”

  2. ???
    Artinya apa ik?

    ehm, karena aku bodoh:p

  3. tapi feeling nya top cerrrr ckckckck
    barang siapa memahami dirinya maka sungguh ia akan memahami Tuhannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: