Dua Lelakiku Dipeluk Bumi


Lelaki itu…

Jelas sekali seraut wajah  memelas itu di memori otakku, masih sangat jelas!

‘Intermezomu’ adalah selamanya bagiku, tak hanya sekejap dan sekilas, tapi seterusnya!

‘Ya… Sudah kita bersahabat saja…’

Kalimat sederhanamu mengalirkan air mataku, tak hanya lalu, tapi hingga kini

Hidupku bertemankan namamu

Cuma nama yang kau beri untukku

Panggilanmu untukku, ku tanam selalu

Mengakar hingga terus ke dasar

Oktober…

Tangis yang menangis

Berpindah ruhmu di tempat yang paling indah di atas awan

Ragamu dipeluk bumi

Tujuh ratus kali matahari menampakkan terbit dan menenggelamkan senja

Lalu sampai pula pada satu titik yang mengejutkan jiwa

Lelaki itu…

Jabat tangan lembutmu masih terasa hangat di pipiku

Nasihat-nasihatmu amat mengena di dasar kalbu yang hingga sekarang menggebu

Guyonan, lawakanmu begitu riuh di telingaku, riak terasa menggelegar

‘Shalat Maghrib… Shalat maghrib…’

Kumandang darimu itu menyemangatiku untuk terus menjura pada Dia Yang Maha Hidup

Tapi hidup tak selamanya hidup

Tubuh tangguhmu tak tersentuh olehku

Tak terjamah lagi

Oktober…

Tangis yang menangis.

Berpindah ruhmu di tempat yang paling indah di atas awan

Ragamu dipeluk bumi

Bulan yang sama…

Perih yang sama…

Dua lelakiku dipeluk bumi…😥

11 Mart’10 21.29wib

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: