Tentang Mimpi


“…Kemarin dan tadi, entah ada apa dipikiranku. Hingga sesosok pria itu muncul lagi dimimpiku. Tak apa, malah aku merasa amat sangat bahagia. Karena hanya mimpilah yang berbaik hati mempertemukan aku dengan “dia”. Hanya dalam ruang itulah aku bisa melihat senyum manisnya. Di alam itulah aku dapat mendengar khas suaranya. Tapi beberapa kali aku bersuanya di tempat itu, tetap saja dia masih tak mau mengeluarkan sedikit saja suara dari bibirnya…”

Aku semakin bingung, makna apa dibalik semua itu? Haruskah kejadian ini berpijak pada pendapat salah satu tokoh Antropologi, Levi Straus?. Bahwa kenyataan yang sesungguhnya adalah dibalik kenyataan itu sendiri. Apa ini berarti pemaknaan mimpi hanya dapat dimengerti oleh mimpi itu sendiri? Haruskah kucerna lebih halus lagi dari makna mimpi itu sendiri?Hahh, aku semakin bingung mencari makna-makna mimpi yang pernah menghias tidurku. Mungkin benar kata orang-orang sana, mimpi adalah bunganya tidur. Siang hari selalu mengungkit-ungkit hal yang sama, memikirkan hal yang itu-itu saja, membahas orang-orang yang sama. Nah, bisa saja malam hari ketika kita pulas tertidur masih saja mengalami segala hal yang dipikirkan di siang hari. Ini sepertinya  butuh bantuan ahli psikologis. Atau bahkan psikiater? Ahh, sudahlah tak perlu berpanjang lebar membahas makna mimpi. Berpositif thingking saja dengan mimpi yang sempat mampir dalam tidur kita.

Mimpi bertemu dengan orang yang sudah meninggal??? Kenapa harus takut? Padahal apabila dipikir secara rasional, dalam mimpi itulah kita berkesempatan berdialog dengannya, meski di alam bawah sadar tentunya. Apalagi seseorang itu merupakan bagian dari hidup kita. Mungkin keluarga kita, pasangan kita, sahabat kita, rekan kerja kita, atau yang lainnya. Hanya dalam mimpi itulah kita bisa melepas rindu yang sudah lama terpendam. Harus dengan apa lagi kita melepaskan kangen dengan seseorang yang sudah meninggal bila tidak dipertemukan Tuhan dalam mimpi. Berdoa, mendoakan orang yang sudah meninggal merupakan salah satu obat mujarab penyembuh kepenatan dalam kerinduan. Menangislah dalam sujud kepada Tuhan, memohonlah agar kerinduan itu tidak terperasak lebih dalam di relung hati. Karena apa kau tau, itu bisa menjadikan jiwa tersiksa perlahan-lahan. Nafas akan terasa tersengal, degup jantung semakin tak lancar, berlebih lagi apabila kerinduan itu tak bisa tersalurkan! Menangislah ketika itu…

’08

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: