STRATEGI ADAPTASI ORANG MINANG TERHADAP BAHASA, MAKANAN, DAN NORMA MASYARAKAT JAWA


(Studi Kasus di Kelurahan Sekaran Kecamatan Gunungpati Kota Semarang)

Oleh
Nur Indah Ariyani (2009)
Jurusan Sosiologi dan Antropologi
FIS_UNNES

ABSTRAK

Kata Kunci: Strategi Adaptasi, Orang Minang, Bahasa Jawa, Makanan Jawa, Norma Masyarakat Jawa

Suku Bangsa Minangkabau adalah suku yang terkenal dengan kebiasaan merantaunya. Salah satu sasaran tempat untuk merantau adalah di Sekaran. Dibangunnya kampus UNNES di Sekaran menjadikan Sekaran wilayah yang strategis untuk membuka tempat usaha. Namun orang Minang yang tinggal di Sekaran memiliki perbedaan budaya dengan masyarakat setempat yang berkebudayaan Jawa.

Permasalahan yang akan dikaji adalah (1) bagaimana strategi adaptasi orang Minang terhadap bahasa Jawa? (2) bagaimana strategi adaptasi orang Minang terhadap makanan Jawa? (3) bagaimana strategi adaptasi orang Minang terhadap norma masyarakat Jawa?. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui dan menjelaskan strategi adaptasi orang Minang terhadap bahasa Jawa (2) mengetahui dan menjelaskan strategi adaptasi orang Minang terhadap makanan Jawa (3) mengetahui dan menjelaskan strategi adaptasi orang Minang terhadap norma masyarakat Jawa.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Fokus penelitian yaitu (1) strategi adaptasi orang Minang terhadap bahasa Jawa percakapan (2) strategi adaptasi orang Minang terhadap jenis makanan Jawa yang diperoleh dari hasil memasak (3) strategi adaptasi orang Minang terhadap prinsip kerukunan dan hormat Jawa. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Validitas data menggunakan triangulasi sumber. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis interaktif yang terdiri dari: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, verifikasi/ penarikan kesimpulan.

Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) orang Minang yang merantau di Sekaran sudah mengerti bahasa Jawa, tetapi sulit dalam hal pengucapan. Oleh karena itu orang Minang lebih memilih berkomunikasi terhadap pembeli dan masyarakat sekitar dengan menggunakan bahasa Indonesia dan menggunakan bahasa simbol berupa gerakan kepada pembeli (orang Jawa) yang tidak mengerti bahasa Indonesia, serta tetap berusaha untuk belajar bahasa Jawa agar dapat mengurangi kesalahpahaman dengan masyarakat sekitar (2) Strategi adaptasi yang dilakukan orang Minang dalam hal makanan adalah dengan memilah-milah makanan yang tersedia di Sekaran atau memasak sendiri sesuai selera. Orang Minang yang mempunyai tempat usaha warung makan disesuaikan dengan selera masyarakat sekitar (3) Orang Minang berusaha menyesuaikan norma masyarakat Jawa dengan menjalin hubungan baik dengan masyarakat sekitar. Berusaha untuk menghadiri acara yang diselenggarakan masyarakat setempat, seperti pernikahan, khitanan bahkan acara kematian. Orang Minang apabila menyelenggarakan acara disesuaikan dengan tradisi Jawa serta menyesuaikan dengan panggilan istilah Jawa.

Simpulan yang dapat diambil adalah (1) Strategi adaptasi orang Minang terhadap bahasa Jawa adalah lebih sering menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan orang Jawa agar mengurangi adanya kesalahpahaman, serta tetap berusaha untuk belajar bahasa Jawa (2) Strategi adaptasi orang Minang terhadap makanan Jawa adalah dengan memilah-milah makanan yang pedas sesuai dengan selera atau dengan memasak sendiri. Orang Minang yang mempunyai tempat usaha warung makan khas masakan Minang disesuaikan dengan selera masyarakat sekitar (3) Strategi adaptasi orang Minang terhadap norma masyarakat Jawa adalah dengan berusaha mematuhi segala tata tertib yang ada dan menyesuaikan dengan tradisi Jawa serta menggunakan panggilan Jawa yang sering digunakan oleh orang Jawa.

Berdasarkan simpulan maka dapat diberikan saran kepada masyarakat secara umum untuk (1) menyadari dan memahami adanya suatu keanekaragaman yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, yaitu keanekaragaman suku bangsa dan budaya (2) memupuk rasa saling menghargai antar anggota suku bangsa demi terwujudnya hubungan yang rukun dan harmonis.

PENDAHULUAN

Salah satu suku bangsa yang terdapat di Indonesia adalah Suku Bangsa Minangkabau. Suku bangsa yang sering disebut dengan Suku Minang ini terdapat di Provinsi Sumatera Barat dan sekitarnya seperti sebagian daerah Riau, Jambi, Bengkulu, bahkan Negeri Sembilan, Malaysia. Salah satu faktor penyebab kebiasaan merantau ialah sistem kekerabatan matrilineal. Penguasaan harta pusaka dipegang oleh kaum perempuan sedangkan hak kaum pria cukup kecil. Hal inilah yang menyebabkan kaum pria Minang memilih untuk merantau. Penjelasan lain adalah pertumbuhan penduduk yang tidak diiringi dengan bertambahnya sumber daya alam yang dapat diolah. Faktor-faktor inilah yang kemudian mendorong orang Minang pergi merantau mengadu nasib di negeri orang. Minang perantauan merupakan istilah untuk orang-orang dari Suku Minangkabau yang hidup di luar provinsi Sumatera Barat. Etos merantau orang Minang sangatlah tinggi, bahkan diperkirakan tertinggi di Indonesia (www. wikipedia.com)

Sebagian besar orang Minang merantau di kota-kota besar di Indonesia, salah satu sasaran adalah di Semarang. Sejak dibangunnya kampus Universitas Negeri Semarang (UNNES) di Sekaran, banyak perubahan yang terjadi didaerah tersebut, baik dari segi sosial maupun budaya. Banyak pula orang-orang yang berasal  dari luar kota atau bahkan luar Jawa yang merantau di Sekaran. Berbagai alasan dikemukakan, bahwa mereka merantau untuk mencari pekerjaan yang lebih layak demi terpenuhinya segala kebutuhan hidup. Banyaknya mahasiswa yang menuntut ilmu di UNNES merupakan alasan utama para perantau memilih Sekaran sebagai daerah perantauan. Jumlah mahasiswa yang relatif banyak dapat membantu berjalannya usaha dagang yang digeluti, karena beragai fasilitas dan kebutuhan diperlukan oleh mahasiswa. Oleh karena wilayah kampus biasanya mendatangkan rejeki bagi yang bisa memanfaatkannya dengan baik. Alasan lain merantau di Sekaran karena hubungan kekerabatan orang Minang, informasi dari saudara atau kerabat lainnya, serta mobilitas Sekaran yang relatif mudah.

Secara umum yang dijadikan alasan utama orang Minang merantau di Sekaran adalah karena faktor ekonomi. Sebagian besar mendirikan usaha warung makan khas masakan Minang, usaha photo copy, toko barang-barang elektronik dan toko sepatu. Orang Minang yang merantau di Sekaran pada umumnya masih mempunyai hubungan kekerabatan. Untuk kedatangan pertama ke tanah rantau, biasanya menetap terlebih dahulu di rumah dunsanak yang dianggap sebagai induk semang. Begitu pula dengan pekerjaan yang digeluti juga tidak akan jauh berbeda dengan saudara atau kerabatnya tersebut.

Orang Minang yang merantau di Sekaran memiliki perbedaan dengan lingkungan yang ditinggali, baik dalam kehidupan sosial maupun budaya. Perbedaan budaya, seperti sistem kekerabatan, kesenian, bahasa, sistem mata pencaharian, sitem organisasi, upacara daur hidup, adat istiadat dan perbedaan lain. Orang Minang yang berkebudayaan Minang dengan masyarakat Sekaran yang yang berkebudayaan Jawa merupakan tantangan bagi orang Minang untuk dapat bertahan hidup di lingkungan tempat perantauan. Termasuk perbedaan yang menonjol yang akan dibahas di sini adalah faktor bahasa, norma, serta makanannya.

Perbedaan antara bahasa Minang dengan bahasa Jawa mengharuskan orang Minang yang merantau di Sekaran berusaha untuk dapat menyesuaikan dengan bahasa yang digunakan masyarakat sekitar. Daerah Sekaran juga merupakan lingkungan kampus, di mana banyak terdapat mahasiswa yang masing-masing memiliki dialek bahasa yang berbeda-beda sesuai dengan daerah asalnya. Situasi yang seperti inilah yang menjadikan orang Minang berusaha untuk menyesuaikan penggunaan bahasa (verbal) dengan baik, atau setidaknya mengerti tentang bahasa yang digunakan oleh masyarakat di lingkungan sekitarnya.

Selain perbedaan bahasa, ada perbedaan yang sering dianggap suatu hal yang biasa, yaitu berkenaan dengan makanan atau masakan. Makanan atau masakan juga termasuk kekayaan budaya suatu suku bangsa. Salah satu kekayaan Suku Bangsa Minangkabau adalah kekayaan kulinernya, bahwa dari satu bahan dasar dapat diolah menjadi beberapa jenis masakan. Kecenderungan orang Minang menyukai makanan atau masakan yang pedas, tetapi tidak mutlak untuk semua orang Minang. Sedangkan orang Jawa cenderung berselera dengan makanan atau masakan yang manis. Perbedaan selera makanan ini sebenarnya juga tidak sepenuhnya mutlak untuk seluruh anggota dari masyarakat Jawa, tetapi ada kontruksi pemikiran jenis makanan dari masing-masing masyarakat tersebut. Dikatakan oleh Hifni (2008) secara antropologi, setiap makanan menyebar seiring dengan penyebaran manusia. Makanan yang tersebar itu kemudian bisa diterima di tempat lain. Selain itu, makanan juga menyebar karena ada lokalisasi, proses industri yang disesuaikan dengan adat dan budaya setempat (www.west-sumatra.com). Perbedaan selera makanan antara orang Minang dengan orang Jawa inilah yang menjadikan orang Minang melakukan  penyesuaian dalam hal makanan.

Selain perbedaan bahasa dan selera makanan, terdapat pula perbedaan norma masyarakat. Dalam kehidupan sehari-hari orang Minang banyak mempergunakan kata adat, terutama berkaitan dengan pandangan hidup maupun norma-norma yang berkaitan dengan kehidupan masyarakatnya. Pengungkapannya dalam bentuk pepatah-petitih, talibun, mantra dan ungkapan-ungkapan lainnya. Masyarakat Sekaran yang cenderung menerapkan nilai-nilai budaya Jawa tentu norma yang diterapkan juga berbeda dengan norma yang berlaku pada masyarakat Minang. Setiap masyarakat memiliki suatu aturan atau norma dan adat istiadat yang berbeda. Norma yang ada di tempat tinggal kita akan berbeda dengan norma yang ada di daerah lain. Begitu pula dengan norma yang ada pada masyarakat Jawa akan berbeda dengan norma orang Minang. Oleh karena itu orang Minang yang  tinggal di Sekaran diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan norma Jawa yang berlaku dalam masyarakat Sekaran.

Adanya berbagai perbedaan antara budaya Minang dengan budaya Jawa harus dapat dikelola dengan baik oleh anggota masyarakatnya agar tidak terjadi perpecahan. Orang Minang yang merantau dan tinggal di Sekaran memerlukan penyesuaian dengan budaya masyarakat setempat. Kebutuhan beradaptasi tersebut merupakan suatu bentuk usaha agar dapat bertahan hidup di tengah-tengah masyarakat yang memiliki budaya yang berbeda. Pada dasarnya manusia merupakan makhluk sosial, agar dapat hidup dan berkembang dengan lingkungan sosialnya setiap individu harus melakukan penyesuaian dalam setiap tahap perkembangannya. Untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosialnya setiap individu harus dapat melakukan komunikasi dengan kepribadian yang dimiliki oleh berbagai individu. Di zaman sekarang ini, adaptasi mempunyai peran yang sangat penting. Manusia sebagai makhluk sosial berusaha menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitarnya. Orang Minang yang  hidup dalam masyarakat Sekaran yang secara nyata adalah berbeda budaya memerlukan suatu strategi untuk dapat mempertahankan hidupnya dan agar tetap eksis dalam keminoritasan.

Strategi-strategi dalam proses adaptasi sangat penting bagi individu yang menemui lingkungan baru, baik lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Sama halnya dengan orang-orang yang merantau, mereka dituntut untuk dapat beradaptasi dengan baik terhadap lingkungan alam, maupun lingkungan sosialnya. Orang Minang merupakan kaum minoritas dalam masyarakat Sekaran, merantau untuk bekerja demi mencukupi kebutuhan hidupnya. Sehingga apabila dapat bertahan dan berhasil membaur serta dapat berinteraksi dengan baik terhadap masyarakat sekitar merupakan  salah satu kesuksesan dari orang Minang dalam  melakukan proses adaptasi.

Permasalahan dalam penelitian ini adalah (1) bagaimana strategi adaptasi orang Minang terhadap bahasa Jawa? (2) bagaimana strategi adaptasi orang Minang terhadap makanan Jawa? (3) bagaimana strategi adaptasi orang Minang terhadap norma masyarakat Jawa? Tujuan Penelitian (1) mengetahui dan menjelaskan strategi adaptasi orang Minang terhadap bahasa Jawa (2) mengetahui dan menjelaskan strategi adaptasi orang Minang terhadap makanan Jawa (3) Mengetahui dan menjelaskan strategi adaptasi orang Minang terhadap norma masyarakat Jawa.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode kualitatif, dengan lokasi penelitian di Kelurahan Sekaran Kecamatan Gunungpati Kota Semarang. Lokasi penelitian ini dipilih karena masyarakat di Kelurahan Sekaran merupakan bagian dari masyarakat Jawa yang menganut budaya Jawa, dan karena Sekaran telah di bangun Kampus Universitas Negeri Semarang (UNNES), di mana akibat dibangunnya Kampus UNNES tersebut banyak terdapat para pekerja rantau dari berbagai daerah atau bahkan berbagai suku bangsa yang memiliki budaya yang berbeda-beda, termasuk Suku Bangsa Minangkabau mendirikan tempat usaha di Sekaran.

Fokus masalah dalam penelitian ini adalah: (1) strategi adaptasi yang berkaitan dengan bahasa yaitu tentang bahasa percakapan, (2) strategi adaptasi yang berkaitan dengan makanan Jawa, yaitu jenis masakan Jawa yang manis, (3) strategi adaptasi yang berkaitan dengan prinsip rukun dan prinsip hormat. Subjek dalam penelitian ini adalah orang Minang yang merantau di Sekaran.

Teknik pengumpulan data adalah dengan menggunakan  teknik wawancara terhadap informan kunci, yaitu orang Minng yang merantau di Sekaran  dan informan pendukung yaitu masyarakat sekita, mahasiswa dan perangkat desa. Serta teknik obserbvasi berupa pengamatan terhadap perilaku adaptif orang Minang di Sekaran.

HASIL PENELITIAN

Deskripsi Lokasi Penelitian

Secara administratif Kelurahan Sekaran memiliki luas wilayah 490.718 Ha, dengan batas-batas wilayah  sebagai berikut sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Sukorejo, sebelah selatan beratasan dengan Kelurahan Patemon, sebelah barat beratasan dengan Kelurahan Kalisegoro, dan sebelah timur berbatasan dengan Kelurahan Srondol Kulon (Sumber: Monografi Kelurahan Sekaran Tahun 2009).

Penelitian dilakukan di Kelurahan Sekaran karena masyarakat di Kelurahan Sekaran merupakan bagian dari masyarakat Jawa yang menganut budaya Jawa, baik masyarakat asli Sekaran maupun sebagian besar pendatang (mahasiswa). Di Sekaran telah di bangun Kampus Universitas Negeri Semarang (UNNES), di mana akibat dibangunnya Kampus UNNES tersebut banyak terdapat para pekerja rantau dari berbagai daerah atau bahkan berbagai suku bangsa yang memiliki budaya yang berbeda-beda, termasuk Suku Bangsa Minangkabau mendirikan tempat usaha di Sekaran.

Aspek Budaya Masyarakat Sekaran

Dalam masyarakat Sekaran sebagian besar anggota masyarakatnya adalah etnis Jawa (orang Jawa). Bahasa yang digunakan masyarakat asli Sekaran adalah bahasa Jawa. Dialek Semarangan biasanya menggunakan partikel kata ik, ok, he’ eh. Seperti ”Apik banget ik” (bagus sekali), ”lha kowe ga ndang rene ok” (Lha kamu tidak segera kemari), ”he’eh wingi wonge bali” (iya, kemarin dia pulang). Kata-kata khas semacam ini merupakan ciri tersendiri dengan dialek-dialek daerah lain di Jawa. Dialek Semarangan semacam itu sangat kental dalam masyarakat Sekaran, bahkan mahasiswa-mahasiswa dari daerah selain Semarang juga terpengaruh menggunakan dialek Semarangan.

Jenis makanan atau masakan masyarakat Sekaran tidak jauh berbeda dengan masakan-masakan yang berasal dari daerah lain sekitarnya, seperti Ungaran, Salatiga dan lainnya. Masyarakat Sekaran banyak pula yang memiliki usaha warung makan. Sekaran merupakan wilayah Kampus UNNES, di mana lokasi ini strategis untuk mendirikan tempat usaha. Oleh karena itu masyarakat asli Sekaran maupun dari luar Sekaran mendirikan tempat usaha di sekitar wilayah tersebut. Masyarakat Sekaran yang memiliki usaha kuliner (warung makan) biasanya lokasi warung ditempatkan dekat dengan rumah, di samping atau di depan rumah.

Jenis makanan yang dijual biasanya sego kucing (nasi kucing), nasi rames, nasi pecel, nasi penyet tempe/ tahu, ayam atau ikan bakar. Sego kucing merupakan nasi yang dibungkus kecil dengan berbagai piliihan lauk yang sudah tersedia di dalamnya, seperti isi kering, daging ayam, telur, isi ampela ati, bandeng dan lainnya. Nasi rames biasanya berisi nasi dan berbagai sayur seperti sayur gori/ tewel, sayur daun singkong, kangkung, kering tempe/ tahu, dan lainnya. Sedangkan penyet merupakan makanan berupa nasi dengan tempe atau tahu disertai dengan sambel trasi/ tomat dan lalapan, seperti kubis, kemangi dan ketimun. Penggunaan bumbu dalam masakan masyarakat Sekaran cenderung menggunakan gula jawa/ gula merah. Hampir sebagian  besar  dari masakan menggunakan campuran  gula, baik gula putih (pasir) maupun gula jawa/ gula merah.

Dalam kehidupan masyarakat Jawa sangat mengharapkan keadaan yang rukun. Masyarakat Sekaran merupakan masyarakat yang masih memegang prinsip kerukunan, hubungan antar individu satu dengan individu lain masih cukup erat. Hubungan semacam ini dapat dilihat misalnya ketika salah satu warga Sekaran menyelenggarakan hajatan pernikahan, tetangga sekitar akan ikut berpartisipasi dalam acara tersebut dengan membantu memasak dan menata ruangan sebelum acara dimulai serta datang untuk nyumbang ketika acara hajatan pernikahan tesebut terselenggara. Selain itu toleransi masyarakat Sekaran juga ditumbuhkembangkan, ketika ada warga yang sedang kesusahan tertimpa musibah atau meninggal dunia, tetangga sekitar atau bahkan warga yang rumahnya jauh apabila mendengar kabar berita duka tersebut ikut datang pula turut berbelasungkawa.

Strategi Adaptasi Orang Minang Terhadap Bahasa Jawa

Bahasa merupakan salah satu unsur budaya yang dapat melestarikan budaya itu sendiri. Karena kebudayaan dipelajari melalui sarana bahasa, bukan diwariskan melalui keturunan. Bahasa yang digunakan oleh kelompok masyarakat memiliki ciri-ciri tersendiri sesuai dengan kebudayaan yang di miliki oleh tiap-tiap kelompok masyarakat tersebut. Seperti halnya suku Minangkabau dengan suku Jawa tentu memiliki khas atau ciri bahasa yang digunakan masing-masing.

Bahasa Minang merupakan bahasa yang cukup asing di telinga masyarakat Sekaran pada umumnya, karena mayoritas warga Sekaran adalah orang Jawa dan dalam bekomunikasi sehari-hari dengan menggunakan bahasa Jawa. Orang Minang merupakan kelompok minoritas di Sekaran. Mereka tinggal di Sekaran dalam rangka merantau mencari kehidupan yang layak (ekonomi). Dalam berbahasa dengan warga atau tetangga sekitar mereka cenderung menggunakan bahasa Indonesia. Suparlan (2004:5) menjelaskan adaptasi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sosial atau sekunder (berkomunikasi dengan sesama, pendidikan, kontrol sosial, pamer dan sebagainya) dan untuk dapat melangsungkan kehidupannya manusia butuh berhubungan dengan orang lain untuk belajar mengenai kebudayaan dan menghindarkan diri dari serangan musuh.  Salah satu untuk memenuhi kebutuhan sosial dalam hal berkomunikasi dengan sesama adalah adaptasi terhadap bahasa. Orang Minang dalam hidup bermasyarakat dengan orang Jawa, khususnya di Sekaran memerlukan adanya suatu strategi atau cara-cara untuk dapat melangsungkan hidup di dalam suatu perbedaan, termasuk dalam hal ini adalah masalah bahasa. Hubungan antara orang Minang dengan masyarakat Sekaran (orang Jawa) secara tidak langsung dipengaruhi pula oleh  penggunaan bahasa.

Hubungan antara orang Minang dengan masyarakat Sekaran (orang Jawa) secara tidak langsung dipengaruhi juga oleh  penggunaan bahasa. Dalam menjalin hubungan tersebut mereka memilih untuk berkomunikasi dengan bahasa Indonesia. Hal ini dimaksudkan untuk meminimalisir adanya kesalahpahaman pemaknaan kata dalam berkomunikasi apabila mereka tetap menggunakan bahasa asli Minang. Hal yang sama dilakukan juga pada para pembeli, mereka berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia.

Dalam Haviland (1999:368) dijelaskan bahwa sistem komunikasi dapat juga menggunakan gerakan atau disebut kinesika. Orang Minang cenderung memiliki keterbatasan untuk dapat mengerti dan memahami bahasa Jawa secara menyeluruh. Apalagi bagi yang baru pertama kali merantau ke Jawa. Orang Minang yang mempunyai tempat usaha seperti warung makan dan photo copy tak jarang juga menggunakan bahasa dalam bentuk gerakan. Para pembeli yang tidak bisa berbahasa Indonesia, hanya mempunyai kemampuan berbahasa Jawa, biasanya menggunakan bahasa dengan simbol-simbol berupa gerakan ketika membeli nasi atau photocopy di tempat orang Minang. Pembeli menunjuk jenis lauk apa yang akan dibeli dengan menggunakan tangan dan apabila orang Minang (penjual) memilihkan lauk yang tidak sesuai maka pembeli menggelengkan kepala. Sama halnya dengan orang Jawa yang akan menggandakan berkas juga menggunakan gerakan tangan, mengacungkan sejumlah jari untuk memberitahu berapa jumlah penggandaan berkas. Bahasa dalam bentuk gerakan juga disertai dengan bahasa lisan berupa bahasa Jawa. Dari pengucapan menggunakan bahasa Jawa tersebut orang Minang  sembari belajar tentang bahasa Jawa. Agar dapat menjalin hubungan dangan baik dengan masyarakat sekitar. Perilaku adaptif semacam ini menurut Hardestry (www.prasetijo.wordpress.com) merupakan perilaku yang bersifat indiosyncratic, yaitu perilaku adaptif yang menggunakan cara-cara unik dalam menghadapi permasalahan lingkungan.

Proses belajar bahasa Jawa yang dilakukan orang Minang tidak semata-mata diperoleh dari pembeli atau masyarakat sekitar, melainkan juga dari anak-anak mereka. Sebagian besar orang Minang yang merantau dan tinggal di Sekaran memiliki anak berusia sekolah dasar.  Dalam Keesing (1999: 86) dijelaskan bahwa anak cenderung  mempunyai kemampuan yang menakjubkan dalam penguasaan bahasa daripada orang dewasa. Orang Minang yang tinggal di Sekaran menyekolahkan anak-anaknya di sekolah yang relatif dekat dengan tempat tinggal. Dalam berinteraksi dengan teman sekolah ataupun teman bermain anak lebih sering menggunakan bahasa Jawa daripada bahasa orang tuanya sendiri, yaitu bahasa Minang.

Seperti yang diungkapkan oleh Ellen (www.prasetijo.wordpress.com)  bahwa ada 4 (empat) tipe dalam tahapan adaptasi, yaitu (1) tahapan phylogenetic yang bekerja melalui adaptasi genetik individu lewat seleksi alam; (2) modifikasi fisik dari ciri-ciri fisik; (3) proses belajar, dan; (4) modifikasi kultural. Strategi yang dilakukan orang Minang terhadap bahasa Jawa merupakan tahapan yang ke-3 dan ke-4, yaitu adaptasi melalui proses belajar dan memodifikasi budaya. Meskipun orang Minang memilih bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan orang Jawa, tetapi orang Minang tetap berkeinginan untuk belajar bahasa Jawa. Proses belajar bahasa Jawa ini merupakan suatu perubahan budaya orang Minang dalam hal bahasa, di mana karena proses adaptasi terhadap bahasa Jawa mereka mempunyai tambahan penguasaan bahasa. Semula (sebelum meratau) hanya menguasai bahasa Minang dan bahasa Indonesia, setelah merantau mendapat tambahan pengetahuan dan penguasaan bahasa Jawa. Sebagaimana dalam Maran (2000:20) bahwa usaha manusia dalam mengadaptasikan diri dengan lingkungan merupakan proses belajar dan hal tersebut merupakan suatu kebudayaan.

Sedangkan dalam masalah pembahasaan sering terdapat perubahan linguistik, perbedaan fonologi, kosakata meskipun masih dalam satu bahasa yang sama di antara kelompok satu dengan kelompok yang lain. Bentuk-bentuk bahasa yang berbeda tetapi cukup besar persamaannya sehingga dapat saling dipahami lebih sering dikenal dengan dialek (Haviland 1999:382). Adanya perbedaan dialek seperti ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor misalnya geografis, sosial, ekonomi dan faktor lainnya. Bahasa Jawa memiliki berbagai macam dialek seperti dialek Tegal, Banyumasan, Semarangan, Pekalongan dan lainnya. Sekaran merupakan suatu daerah yang memiliki berbagai penutur dari berbagai dialek, karena Sekaran merupakan lingkungan kampus. Orang Minang yang selalu berinteraksi dengan mahasiswa dari beragai daerah dan memiliki beragai dialek tidak mempermasalahkan adanya perbedaan tersebut. Orang Minang mengganggap bahwa bagaimanapun bahasa yang digunakan oleh  pembeli atau mahasiswa adalah bahasa Jawa. Oleh karena itu orang Minang cenderung menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan pembeli. Bahasa Jawa digunakan untuk sekedar berbasa-basi atau bercanda dengan pembeli, hal ini dimaksudkan untuk menarik pelanggan dan mengakarabkan diri dengan masyarakat sekitar.

Menurut Hardestry (www.prasetijo.wordpress.com) bahwa mode analitik perilaku adaptif ada 2 (dua) macam, yaitu tindakan individu yang didesain meningkatkan produktifitas dan perilaku interaktif individu dengan individu lain dalam kelompoknya yang biasanya dibangun oleh aturan yang bersifat resiprositas. Keramahtamahan dan kebiasaan bercanda dengan menggunakan bahasa Jawa dengan pembeli merupakan strategi orang Minang untuk meningkatkan produktifitas, yaitu untuk menarik pelanggan.

Strategi Adaptasi Orang Minang Terhadap Makanan Jawa

Dalam hidup manusia kebutuhan biologis merupakan kebutuhan dasar hidupnya, karena manusia mempunyai kebutuhan pokok berupa makan, minum, dan menjaga kesehatan tubuh. Dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar alamiah-biologisnya orang Minang yang tinggal di Sekaran melakukan berbagai usaha dalam menyesuaikan jenis makanan yang ada di Sekaran dan menjaga kesehatannya. Dalam Suparlan (2004:5) dijelaskan bahwa adaptasi dilakukan oleh individu untuk memenuhi salah satu kebutuhan dasar manusia, yaitu kebutuhan alamiah-biologis. Pemenuhan kebutuhan alamiah-biologis orang Minang dapat terlihat dalam hal pemilihan jenis makanan. Orang Minang yang terbiasa dengan cita rasa masakan pedas, maka menyesuaikan dengan masakan Jawa yang cenderung manis. Penyesuaian orang Minang dengan jenis makanan atau masakan Jawa merupakan penyesuaian selera yang membutuhkan banyak waktu. Dalam hal selera makan, orang Minang pada umumnya menyukai masakan yang bercita rasa pedas. Sedangkan di Sekaran, jenis masakan yang banyak disajikan adalah yang mengandung cita rasa manis. Tetapi karena orang Minang yang tinggal di Sekaran sebagian besar sudah pernah merantau diberbagai daerah di Jawa, maka dalam hal selera masakan sedikit banyak bisa menyesuaikan.

Orang Minang yang tinggal di Sekaran sebagian besar sudah berkeluarga dan mempunyai anak. Untuk urusan makanan, mereka memilih untuk memasak sendiri, karena dapat membuat masakan sesuai dengan selera masing-masing. Begitu pula orang Minang yang memiliki tempat usaha warung makan khas masakan Padang, tidak dibedakan masakan yang dijual dengan masakan yang dimakan keluarga atau karyawannya. Jadi untuk hal menyesuaikan selera masakan dengan masyarakat Sekaran tidak terjadi kendala yang begitu berarti. Jika jenuh atau bosan dengan jenis masakan khas Minang yang cenderung pedas, membeli di warung-warung sekitar tempat tinggalnya (masakan Jawa). Pilihan masakan yang dibeli juga tak jauh-jauh dari jenis masakan pedas. Masakan yang sering dibeli adalah pecel lele, karena sambal yang ada pada masakan pecel lele lumayan pedas dan cocok untuk makanan yang lain.

Untuk menjaga kesehatan mereka cenderung memilah-milah jenis masakan yang akan dimakan. Apabila sering makan masakan yang manis, gangguan perut sering terjadi. Rasa mual dan ingin muntah bila makan masakan yang manis. Oleh sebab itu masakan yang dibuat untuk makan keluarga dan karyawannya cenderung pedas, meskipun tidak semua makanan yang dimasak adalah masakan khas Minang. Cara pengolahan dan penggunanaan bumbu tentu berbeda dengan yang dilakukan oleh orang Jawa. Orang Minang cenderung tidak merasa memiliki masalah besar dalam hal pemenuhan biologis berupa pemenuhan makan.

Strategi Adaptasi Orang Minang Terhadap Norma Masyarakat Jawa

Selain sebagai makhluk individu, manusia juga merupakan makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain dalam berkehidupan. Manusia cenderung menjalin hubungan yang baik dengan sesamanya dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya, baik untuk kepentingan pribadinya maupun untuk kepentingan bersama. Hubungan yang baik tersebut diwujudkan melalui proses interaksi. Interaksi tersebut dapat dilakukan antara orang perorangan, kelompok dengan kelompok maupun perorangan dengan kelompok.

Upaya yang dilakukan orang Minang untuk dapat bertahan hidup di lingkungan masyarakat yang baru terlihat juga dalam pemenuhan kebutuhan dasar kejiwaan. Dalam Suparlan (2004:4) individu melakukan adaptasi untuk memenuhi syarat dasar kejiwaan atau kebutuhan adab (kemanusiaan) juga harus dipenuhi untuk kenyamanan diri individu. Termasuk orang Minang juga membutuhkan ketenangan, terhindar dari perasaan takut, keterkucilan, gelisah dan berbagai masalah kejiwaan lainnya. Pemenuhan kebutuhan kejiwaan diperoleh melalui usaha dalam mematuhi segala norma yang terdapat di masyarakat Sekaran.

Norma merupakan suatu aturan yang berarti rambu-rambu yang menggambarkan aturan tertentu yang di dalamnya terkandung nilai benar dan salah. Norma menjadi modal dasar dalam kehidupan masyarakat Jawa, karena norma mengatur pergaulan hidup untuk menacapai suatu ketertiban masyarakat. Untuk mewujudkan hubungan yang harmonis mereka berinteraksi dengan pangkat dan kedudukan. Hal semacam ini merupakan suatu strategi untuk menjaga hubungan tetap teratur dan tenang.

Masyarakat Jawa memegang dua prinsip yang merupakan kerangka normatif dalam pergaulan dan interaksi. Kedua prinsip tersebut adalah kerukunan dan hormat (Suseno 2003:38). Prinsip kerukunan bertujuan untuk mencapai suatu keharmonisan, oleh karena itu segala yang dapat melahirkan suatu konflik sebisa mungkin dihindarkan. Untuk mencapai kerukunan tersebut masyarakat Jawa mengembangkan norma-norma kelakuan atau tata krama yang mengatur semua bentuk interaksi.

Orang Minang dalam mencapai kebutuhan dasar kejiwaan terlihat dalam berbagai bentuk usaha untuk menyesuaikan norma yang ada dalam masyarakat Sekaran. Dalam pertemuan-pertemuan RT (musyawarah warga) yang diselengarakan tiap bulan pada masing-masing RT, mereka mengikuti acara tersebut dengan baik. Pertemuan-pertemuan rutin tersebut biasanya dengan undangan berupa tulisan ataupun lisan.

Jika diundang dalam acara hajatan (pernikahan) oleh tetangga sekitar, mereka berusaha untuk dapat menghadiri acara tersebut dengan membawakan sumbangan berupa uang. Sedangkan dalam persiapan acara hajatan tersebut tidak turut serta, tetapi hanya hadir ketika acara hajatan berlangsung. Jika ada suatu musibah menimpa tetangga, seperti ada tetangga yang sakit, turut membantu dengan menjenguk bersama-sama dengan warga lainnya dengan memberikan uang. Tujuan pemberian sumbangan berupa uang ini adalah agar dapat dimanfaatkan sesuai kebutuhan dan juga lebih praktis. Begitu pula ketika musibah kematian menimpa tetangga sekitar, juga turut serta dalam acara pemakaman (takziyah). Meskipun pada acara-acara tersebut hanya mewakilkan dari salah satu anggota keluarganya untuk turut hadir, karena kesibukan yang dijalani sebagai wiraswata. Begitu pula sebaliknya, apabila orang Minang yang menyelenggarakan acara syukuran juga mengundang tetangga-tetangga sekitar rumah. Penyelenggaraan acara tersebut menggunakan tradisi yang juga digunakan oleh masyarakat Jawa secara umum, yaitu tradisi Jawa. Orang Minang meminta tokoh agama masyarakat sekitar untuk memimpin doa dalam acara tersebut dan mengikutsertakan beberapa tetangga untuk dapat menangani acara yang sedang berlangsung. Hal ini berarti orang Minang yang tinggal di Sekaran melakukan pembauran dengan tradisi masyarakat Jawa. Tetapi hal lain juga terlihat bahwa pembauran tersebut tidak dilakukan secara penuh, karena di waktu tertentu juga melakukan tradisi budayanya, yaitu dalam suatu organisasi yang dibentuk oleh orang-orang Minang perantauan.

Untuk kegiatan-kegiatan keagamaan seperti pengajian, tahlilan, maulid nabi dan kegiatan lainnya jarang diikuti. Begitu pula pada kegiatan komplek atau RT seperti arisan, juga tidak ada yang mengikuti arisan yang diselenggarakan masyarakat sekitar. Alasan disampaikan bahwa ketika datang merantau di Sekaran arisan yang diselenggarakan sudah setengah jalan, oleh karena itu keikutsertaan dalam arisan ditunda pada periode arisan berikutnya. Untuk kegiatan kerja bakti orang Minang juga turut serta dalam kegiatan tersebut, meskipun hanya perwakilan satu keluarga satu orang. Apabila tidak bisa mengadiri kegiatan tersebut, karena kesibukan sebagai wiraswasta meminta izin kepada ketua RT setempat dan memberikan uang rokok atau makanan untuk warga yang ikut dalam kegiatan kerja bakti.

Dalam kegiatan-kegiatan masyarakat semacam itu mereka cenderung lebih sedikit bicara. Mereka hanya bicara seperlunya saja. Hal ini dikarenakan bahasa yang digunakan biasanya adalah bahasa Jawa. Tetapi dalam kegiatan-kegiatan seperti inilah orang Minang mempunyai kesempatan belajar bahasa Jawa dan menjalin hubungan dengan baik dengan masyarakat sekitar.

Dalam prinsip kedua masyarakat Jawa, yaitu prinsip hormat memiliki peranan penting dalam mengatur interaksi masyarakat. Masyarakat Jawa hidup berdampingan secara hierarkis, mempunyai tingkatan-tingkatan dalam kedudukan dan statusnya. Penyesuaian diri orang Minang dalam kehidupan masyarakat Jawa yang bersifat hierarkis terlihat juga pada panggilan-panggilan yang ditujukan pada tetangga sekitar. Untuk tetangga (orang Jawa) yang usianya lebih tua dari pada mereka dipanggil dengan sebutan “bapak, ibu”. Dan untuk usia sedikit lebih tua dipanggil dengan “mas, mbak”. Sedangkan untuk usia dibawahnya dipanggil dengan sebutan “adik”, tetapi apabila mereka tahu namanya dipanggil dengan sebutan namanya. Panggilan dari tetangga atau pembeli dengan sebutan “mas atau mbak” yang ditujukan kepada orang Minang merupakan suatu bentuk rasa menghargai. Oleh karena itu orang Minang tidak merasa tersinggung ataupun terhina apabila disapa dengan panggilan “mas atau “mbak”, meskipun panggilan tersebut terasa asing ketika pertama kali mendengar. Karena biasanya, oleh sesama orang Minang dipanggil dengan sebutan “uda” atau “uni”, yang sama artinya dengan “mas” atau “mbak”.

Dalam masyarakat yang bersifat hierarkis juga harus menunjukan sikap hormat dalam berbicara dan membawa diri kepada orang lain sesuai dengan derajat dan kedudukannya. Sikap hormat antara orang satu dengan orang lain dapat dilihat dari bahasa yang digunakan. Dalam hal berkomunikasi dengan masyarakat Sekaran, sikap hormat yang bersifat hierarkis berbahasa tidak begitu nampak terlihat. Sebagian besar orang Minang yang tinggal di Sekaran hanya mengetahui bahasa Jawa secara umum yang sering digunakan oleh masyarakat Sekaran, yaitu bahasa Jawa ngoko. Di mana bahasa Jawa ngoko merupakan bahasa Jawa yang tingkatannya paling rendah. Oleh sebab itu untuk mengurangi adanya kesalahpahaman dengan masyarakat Sekaran, mereka cenderung menggunakan bahasa Indonesia. Karena bahasa Indonesia merupakan bahasa nasional, yang mana kebanyakan orang (Indonesia) mengetahui dan bisa untuk berahasa Indonesia.

Orang Minang  yang tinggal di Sekaran merupakan kelompok minoritas, di mana dalam kondisi yang seperti ini mereka harus mempunyai kemampuan untuk dapat menjalin suatu hubungan yan baik dengan masyarakat Sekaran. Cita-cita dari hidup bermasyarakat adalah  menciptakan kondisi yang harmonis, dan ke harmonisan tersebut dapat terwujud dengan membentuk masyarakat yang serasi dan hidup rukun. Kerukunan tersebut juga tidak semata-mata merupakan pemberian atau sesuatu yang datang dengan sendirinya, tetapi harus dengan kemauan dan perjuangan untk mencapainya. Orang Minang yang tinggal di Sekaran dalam berkehidupan dengan tatangga sekitarnya mencoba untuk menyesuaikan segala perbedan antara tempat tinggal asalnya dengan tempat tinggal yang di tempati sekarang. Orang Minang menjalin hubungan dengan tetangga seperti layaknya masyarakat Sekaran (orang Jawa), meskipun tidak semua kekhasan dari orang Minang bisa dihilangkan. Hal ini dibuktikan dengan ikut sertanya orang Minang dalam pertemuan-pertemuan RT, menghadiri acara-acara yang diselenggarakan oleh masyarakat setempat, mengundang tetangga sekitar rumah untuk dalam acara syukuran, memberikan oleh-oleh (bingkisan) kepada tetangga sekitar rumah dan hal lain yang menunjukan usaha orang Minang dalam menempatkan posisi sebagai anggota masyarakat yang baik.

Keikutsertaan orang Minang dalam kegiatan yang diselenggarakan masyarakat Sekaran merupakan suatu perilaku adaptif untuk memelihara kondisi sosial. Menurut Hardestry (www.prasetijo.wordpress.com) bahwa salah satu mode analitik perilaku adaptif, yaitu perilaku interaktif individu dengan individu lain dalam kelompoknya yang biasanya dibangun oleh aturan yang bersifat resiprositas terlihat juga dalam kegiatan orang Minang di masyarakat Sekaran. Turut sertanya orang Minang hadir dalam acara yang diselenggarakan masyarakat Sekaran merupakan perilaku interaktif individu dengan individu lain yang dibangun oleh aturan resiprositas. Kehadiran orang Minang dalam hajatan masyarakat Sekaran atau datang menjenguk tetangga (orang Jawa) yang sakit merupakan perilaku interaktif yang didasarkan pada resiprositas, karena ketika orang Minang menyelenggarakan acara syukuran atau tertimpa musibah (sakit) tetangga sekitar akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan orang Minang terhadap orang Jawa. Ketika tetangga sekitar rumah mengalami musibah atau sakit, mereka menjenguk bersama-sama dengan warga lain. Biasanya diberikan bantuan berupa uang kepada keluarga yang  tertimpa musibah. Begitu pula ketika ada tetangga sekitar yang meninggal dunia, ikut berelasungkawa dengan turut hadir  dalam acara pemakaman (takziyah), menyempatkan waktu untuk menghadiri acara tersebut, mekipun terkadang hanya satu atau dua jam saja.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian tentang strategi adaptasi orang Minang terhadap bahasa, makanan, dan norma masyarakat Jawa di Kelurahan Sekaran Kecamatan Gunungpati Kota Semarang, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:

  1. Strategi adaptasi orang Minang terhadap bahasa Jawa adalah lebih sering menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan orang Jawa, baik kepada masyarakat sekitar maupun kepada pembeli. Penggunaan bahasa simbol berupa gerakan juga digunakan kepada masyarakat Jawa yang tidak mengerti bahasa Indonesia. Pemilihan penggunaan bahasa Indonesia dan terus berusaha belajar bahasa Jawa ini dimaksudkan untuk mengurangi adanya kesalahpahaman dalam berkomunikasi dengan orang Jawa.
  2. Strategi adaptasi orang Minang dengan makanan Jawa adalah dengan memilah-milah makanan atau masakan sesuai dengan selera atau dengan memasak sendiri. Umumnya orang Minang lebih menyukai masakan yang cita rasa yang pedas, sedangkan masakan Jawa lebih cenderung manis. Sedangkan untuk orang Minang yang mempunyai usaha warung makan cita rasa masakan disesuaikan dengan lingkungan sekitar, yaitu cenderung memiliki cita rasa yang tidak terlalu pedas. Salah satu cara adalah dengan mengurangi cabai dan menambahkan tomat pada sambal serta mengurangi santan pada kuah sayur.
  3. Strategi adaptasi orang Minang terhadap norma masyarakat Jawa adalah dengan berusaha untuk mematuhi segala tata tertib, mengikuti kegiatan atau acara yang diselenggarakan oleh masyarakat setempat. Orang Minang dalam menyelenggarakan acara (hajatan atau syukuran), seperti syukuran kelahiran bayi mengikuti tradisi yang ada pada masyarakat sekitar, yaitu tradisi Jawa. Untuk panggilan yang ditujukan kepada orang lain, orang Minang juga menerapkan panggilan sesuai dengan panggilan yang sering digunakan orang Jawa, seperti “mas dan mbak”.

DAFTAR RUJUKAN

Haviland, William A. 1999. Antropologi Jilid 1. Jakarta. Erlangga.

Kaplan, David dan Manners, Robert A. 2002. Teori Budaya. Yogyakarta. Pustaka Pelajar.

Keesing, Roger M. 1999. Antropologi Budaya Suatu Perspektip Kontemporer. Jakarta. Erlangga.

Maran, Rafael Raga. 2000. Manusia dan Kebudayan dalam Perspektif Ilmu Budaya Dasar. Jakarta. Rineka Cipta.

Magnis, Frans dan Suseno. 2003. Etika Jawa; Sebuah Analisa Falsafati tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa. Jakarta. PT. Gramedia.

Sumber Internet

Prasetijo, Adi. 2008. Adaptasi dalam Antropologi. Jakarta. http://prasetijo.wordpress.com/2008/01/28/adaptasi-dalam-anthropologi/ (18 April 2009.

Printono, Bambang. 2008. Masakan Manis-manis. http://bambangpriantono.multiply.com/journal/item/2148/Setelah_Di_Jawa_Tengah_MASAKAN_MANIS-MANIS (21 Juli 2009).

http://www.westsumatra.com/index.php?option=com_content&task=view&id=68&Itemid=1 Hifni hfd. 03 April 08. Riwayat Masakan Padang. (10 Februari 2009).

http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Minangkabau (18 Februari 2009).

5 Tanggapan to “STRATEGI ADAPTASI ORANG MINANG TERHADAP BAHASA, MAKANAN, DAN NORMA MASYARAKAT JAWA”

  1. kunjungan balik ditunggu..

  2. kunjungan balik ditunggu

  3. ritno Berkata

    orang minang biasanya gampang beradaptasi di lingkungan barunya…. saya yang orang jawa susah untuk beradaptasi di sumatra… jadi perlu belajar banyak tuh sama orang minang….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: